Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum 2013] Datang Dari Aceh, Sabilla Ingin Seperti Ratchanok
30 Juni 2013
[Audisi Umum 2013] Datang Dari Aceh, Sabilla Ingin Seperti Ratchanok
 
 

Audisi umum PB Djarum memang kerap diikuti oleh atlet-atlet muda dari berbagai penjuru negeri, tak terkecuali dari provinsi paling barat Indonesia, Daerah Istimewa Aceh, bahkan dari salah satu kota paling ujung di tanah air, Meulaboh. Adalah Sabilla Yasarah yang datang langsung dari Aceh untuk turut serta dalam memperebutkan beasiswa bulutangkis yang ditawarkan oleh Djarum Foundation Bakti Olah Raga.

“Saya ingin bisa membawa nama Aceh, dan saya ingin bisa menjadi pemain seperti Ratchanok (Inthanon),” ujar atlet yang biasa dipanggil Billa ini.

Billa datang ke kudus bersama sang ibu – Inong. Sang ibunda pun bercerita mengapa Billa akhirnya bercita-cita ingin menjadi atlet bulutangkis. “Billa masih trauma dengan tsunami, sekarang dia masih suka takut kalau ada hujan deras,” ceritanya.

Billa memang harus mengalami bencana Tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Billa yang kala itu baru berusia 2 tahun sempat hilang sembilan jam. Tumbuh dalam trauma bencana, Inong pun berusaha agar anaknya bisa perlahan melupakan trauma. Bulutangkis pun menjadi pilihan.

“Dia ingin jadi pemain terkenal, dan saya sangat mendukungnya,” lanjut Inong.

Sabilla sendiri mulai berlatih bulutangkis sejak usia tujuh tahun. Berbagai gelar ia raih dari berbagai turnamen lokal dikategori usia dini, diantaranya adalah juara pertama Li Ning Open yang digelar di Batam tahun 2012 lalu. Ia dilatih oleh sang ayah, M Yanis yang juga membangun sebuah klub yang diberi nama PB Teuku Umar.

Kini, untuk merajut cita-citanya menjadi atlet bulutangkis, Billa memilih untuk berkompetisi di audisi umum dan meraih beasiswa bulutangkis. Hal ini bukan tanpa alasan, melihat potensi sang anak, Inong memang mendukung penuh keinginan anaknya, dan PB Djarum menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan mimpi anak ketiga dari tiga bersaudara itu.

“Di Aceh pertandingan minim, dan biaya juga besar,” pungkasnya. (IR)