Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > Terinspirasi Dari Atlet
12 Juli 2020
Terinspirasi Dari Atlet
 
 

Kedekatan seorang wartawan kepada atlet terkadang begitu erat. Tidak hanya sekedar ngobrol berbagai hal, terkadang wartawan bisa menjadi teman berbagi penat. Widya Amelia misalnya, setiap hari berkecimpung di seputaran Pelatnas dan juga perjalanannya meliput kejuaraan bulu tangkis ke berbagai negara dengan para atlet bulu tangkis. Inilah membuatnya lebih dekat lagi secara pribadi.

Widya sangat paham akan perjuangan para atlet yang mondok di Pelatnas. Setiap hari ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para atlet berjuang, berlatih dengan sangat keras. Apalagi jika atlet yang bertanding di sebuah kejuaraan tetapi hasilnya tidak sesuai harapan, tidak saja atlet yang merasa sedih. Iapun turut merasakan kesedihan.

Secara personal dengan atlet kan dekat, apalagi melihat mereka kalah. Ditambah minggu-minggu sebelumnya melihat persiapan di Pelatnas udah gimana banget, tapi hasilnya lain di turnamen, jadi sedih liatnya,” ungkapnya.

Cerita yang begitu menyentuh hatinya dialami saat tim Indonesia gagal di ajang perebutan Piala Thomas dan Uber 2012 di Wuhan, Tiongkok. Tim putra dan putri Indonesia waktu itu harus terhenti di babak perempat final di tangan Jepang. Tim putra kalah 2-3 sementara tim putri juga kalah dari negara dan skor yang sama.

Lindaweni yang bertanding di partai terakhir gagal mengatasi pemainan Minatsu Mitani dan kekalahan ini berbuntut pada cederanya kaki Lindaweni. Pada saat menuju hotel dengan bis, kram kaki yang dialami oleh Lindaweni memaksanya tidak dapat menekuk kakinya dan menghalangi jalan di koridor bis. Walhasil Widya dan para atlet lain tidak bisa melewati koridor bis. Sebenarnya kaki Lindaweni masih bisa dilangkahi, tetapi Widya dan para pemain tetap memilih berdiri di dalam bis. Di tengah perjalanan Lindaweni terlihat menangis.

Ga tau dia nangis karena kalah atau karena kesakitan, tapi yang pasti kita semua yang ada di dalam bis merasakan suasananya yang ga enak banget. Sedih banget,” ceritanya.

Tidak hanya menjadi saksi sedih gagalnya para atlet, ibu dari seorang putri ini juga sering ikut merasakan kebahagiaan seorang atlet jika berhasil menjadi juara. Rasa lelah peliputan yang ia rasakan menjadi hilang saat atlet yang tengah mengacungkan tangan tanda menjadi juara.

Waduh rasanya ga terbayangkan, apalagi waktu motret, itu motret jaraknya kayanya ga sampe satu meter,” katanya.

Widya lantas bercerita waktu Indonesia berhasil merebut Piala Suhandinata. Ia ikut merasakan euforia kemenangan tim Indonesia saat menjadi juara untuk perama kalinya.

Pertama kali bawa Piala Suhandinata ke Indonesia, seneng banget,” paparnya.

Lalu waktu di Guangzhou, Tiongkok, saat dua gelar bisa direbut oleh Indonesia.

Waktu itu Owi/Butet hampir kalah, tapi akhirnya menang. Trus juga Hendra/Ahsan jadi juara padahal baru dipasangin,” lanjutnya.

Kemenangan seorang atlet rupanya menjadi inspirasi dan malah diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bagaimana seorang atlet yang sedang tertekan dalam pertandingan, bisa keluar dari tekanan dan berbalik unggul.

Yang paling keren itu waktu mereka bisa keluar dari tekanan. Ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dia aja bisa keluar dari keadaan tertekan trus tiba-tiba bangkit, masa saya ga bisa,” ujarnya.

Tetapi sebagai pewarta berita, ia tetap harus mencoba  bersifat objektif dan profesional. Kesedihan ataupun kebahagiaan yang ia rasakan tidak boleh berlarut-larut, karena ia harus cepat menaikkan berita, apapun hasilnya.  

“Liat atlet kalah, harus motret di podium, trus di mixzone ketemu atletnya. Aduh rasanya campur aduk. Tapi harus nulis cepet dan mengesampingkan perasaan-perasaan semua itu,” pungkasnya.

Itulah Widya Amelia, sosok wanita yang tergila-gila dengan bulu tangkis yang akhirnya malah terjun langsung menjadi pewarta bulu tangkis. (AR)