
“Saya ingin mengangkat pamor ganda putra,” ujar Christian Hadinata.
Inilah yang menjadi semangatnya untuk bisa menjadikan ganda putra tanah air disegani di berbagai pentas bulutangkis dunia. Di awal era kejayaan bulutangkis Indonesia, kita memang lebih dikenal karena prestasi tunggal putra yang sangat gemilang. Diawali oleh Tan Joe Hok yang sukses menjadi pebulutangkis Indonesia pertama yang berhasil menjuarai All England. Berlanjut dengan Rudy Hartono yang sukses mengantongi delapan gelar juara turnamen tertua dunia itu.
Sementara itu, Christian menjadi pemain bulutangkis di sektor ganda. Ia menjadi ganda putra pertama peraih gelar All England bersama Ade Chandra di tahun 1972. Tak hanya di ganda putra, Christian pun sukses menjadi jawara di ganda campuran bersama Imelda Wiguna di tahun 1979.
Usai gantung raket, Christian tak lantas meninggalkan dunia yang sangat ia cintai ini. Ia mulai melatih pebulutangkis ganda putra Indonesia di tahun 1990. Ia pun akhirnya sukses membawa pulang medali Olimpiade di 1992, perak kala itu berhasil disumbang anak didiknya, Eddy Hartono/Rudy Gunawan. Mereka harus mengakui keunggulan wakil Korea, Kim Moon Soo/Park Joo Bong.
“Misi saya menjadi pelatih saat itu, saya ingin menaikkan pamor ganda putra. Sektor ganda putra jangan sampai kalah prestasi oleh tunggal putra, ganda putra harus sejajar dengan tunggal,” papar Christian.
Empat tahun kemudian, Olimpiade 1996 di Atlanta, dibawah kepelatihan Christian, Indonesia berhasil mempertahankan tradisi emas melalui Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky yang memang sudah sangat mendominasi sejak awal dipasangkan.
“Apa yang terjadi di 1992 sebenarnya sudah bisa melebihi target. Karena di 1992 memang tunggal terutama tunggal putri yang ditarget untuk meraih emas, sementara target kami pada saat itu adalah medali perunggu, tetapi akhirnya bisa membawa pulang emas. Dan di tahun 1996, medali emas dari ganda putra adalah harga mati, tidak bisa ditawar lagi,” kenangnya.
Di tahun 2000 saat Olimpiade digelar di Sydney, Australia, ganda putra sukses meraih medali emas melalui Chandra Wijaya/Tony Gunawan. Sementara di tahun 2004, Christian mendampingi Heri Iman Pierngadi dan sukses membawa pulang medali perunggu melalui Eng Hian/Flandy Limpele. Dan di Olimpiade 2008, Christian yang kembali mendampingi tim merah putih bersama Heri berhasil membawa pulang emas lewat besutan Markis Kido/Hendra Setiawan.
“Saya selalu menekankan bahwa prestasi ganda putra tidak boleh turun, regenerasi menjadi hal yang paling penting. Dan tradisi juara di sektor ganda ini sepertinya sudah menjadi motivasi tambahan bagi atlet untuk terus berprestasi, dan akhirnya sekarang mulai banyak atlet yang ingin menjadi pemain ganda,” tambah pria kelahiran 11 Desember 1949 ini.
Meskipun tradisi emas Olimpiade Indonesia sempat terhenti di tahun 2012 dimana kala itu Indonesia gagal membawa pulang medali, tetapi saat ini, Christian menuturkan bahwa sektor ganda khususnya ganda putra menjadi andalan Indonesia di berbagai panggung.
Di tahun 2015 lalu, Mohammad Ahsan yang berpasangan dengan Hendra sukses menjadi juara dunia, dan tahun ini pebulutangkis muda Kevin Sanjaya Sukamuljo bersama Marcus Fernaldi Gideon sudah membawa pulang dua gelar superseries. (RI)
