Turnamen Internasional
Home > Berita > Turnamen Internasional > [Indonesia Juara] 1994, Juara Lagi Setelah Menanti Sepuluh Tahun
28 September 2020
[Indonesia Juara] 1994, Juara Lagi Setelah Menanti Sepuluh Tahun
 
 

Indonesia mengalami masa paceklik raihan piala Thomas dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun. Usai tahun 1984, Indonesia tak kuasa membawa pulang piala lambang supremasi beregu putra. Hadirnya para pemain dari negeri tirai bambu, Tiongkok, memporakporandakan tahta yang sudah dikuasai lama oleh Indonesia. Indonesia gagal pada tahun 1986. Di depan publik sendiri, Indonesia menyerah 2-3 di babak final ditangan Tiongkok.

Di tahun 1988 dan 1990 pasukan merah putih malah terhenti di babak semifinal. Pada tahun 1992 kembali Indonesia melesat ke final meski akhirnya dihentikan oleh Malaysia dengan 3-2. Usaha keras yang ditunjukkan para pemain Indonesia akhirnya berbuah manis. Para tahun 1994, tepatnya di Istora Senayan, Piala Thomas kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.

Bisa dibilang tahun 1994 menjadi puncak kejayaan bulutangkis Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki stok pemain tunggal putra yang banyak dan mumpuni. Terbukti pada perhelatan akbar All England 1994, empat tunggal putra Indonesia menguasai babak semifinal. Hariyanto Arbi, Ardy B Wiranata, Alan Budi Kusuma dan Hermawan Susanto tidak menyisakan satu tempatpun bagi pemain diluar  Indonesia.

Hariyanto pun menjadi kampiun di kejuaraan paling bergengsi tersebut. Lalu di gandapun tidak kalah hebatnya. All Indonesian Final terjadi di babak final. Gunawan/Bambang Suprianto menjadi juara setelah mengalahkan Ricky Soebagja/Rexy Mainaky. Tim inti pun terpilih. Joko Supriyanto, Hariyanto Arbi, Ardi B Wiranata dan Hermawan Susanto mengisi kekuatan tunggal. Sementara Gunawan/Bambang Suprianto dan Ricky Soebagja/Rexy Mainaky menjadi andalan di ganda. Sementara Eddy Hartono dipilih sebagai pemain ganda cadangan.

Indonesia mengawali pertandingan putaran piala Thomas dengan mendepak tim lemah Finlandia dengan telak 5-0. Pada hari kedua giliran Swedia dikalahkan juga dengan angka besar 5-0. Pada pertandingan terakhir penyisihan grup, Indonesia menghempaskan tim kuat Tiongkok juga dengan kemenangan 5-0.

Joko yang turun sebagai lokomotif pasukan Indonesia, membuka kemenangan dengan mengalahkan Dong Jiong. Joko menang 12-15, 18-16, 15-5. Hariyanto Arbi menambah kemenangan Indonesia atas Tiongkok setelah menang dari Xie Yangchun dengan 15-5, 15-5. Ardy pun tidak mau kalah. Ia menyumbang kemenangan untuk Indonesia dengan menyudahi permainan Sun Jun, 15-2, 15-12. Dua ganda Indonesia juga sukses mengemas kemenangan. Gunawan/Bambang menang dari Chen Kang/Chen Hongyong dengan 17-14, 15-12 dan Ricky/Rexy membungkam Jiang Xin/Yu Qi, 15-7, 15-4.

Muncul sebagai juara grup, Indonesia bertemu dengan Korea di babak semifinal. Indonesia akhirnya melesat ke babak final dengan mengalahkan Korea 4-1. Joko yang tetap dimainkan sebagai tunggal pertama tampil gemilang. Joko menang 15-12, 15-5 atas Kim Hak Kyun. Gunawan/Bambang kembali unjuk gigi. Mereka mendulang angka dengan menyikat Kim Dong Moon/Yoo Young Sung, 12-15 15-5, 15-10. Sayangnya Hariyanto Arbi gagal  menjalankan tugasnya. Ia dikalahkan Park Sung Woo dengan 16-17, 1-15. Untungnya dua partai tersisa dikuasai Indonesia. Ricky/Rexy menang dari Lee Kwang Jin/Xhoi Ji Tae15-1, 15-2 dan Hermawan unggul dari Ahn Jae Chang, 15-4, 15-1.

Indonesia akhirnya bersua dengan musuh bebuyutannya, Malaysia di babak final. Indonesia merubah sedikit susunan pemainnya dengan mengistirahatkan Joko Supriyanto dan menggantikannya dengan Hariyanti Arbi sebagai tunggal pertama. Tugaspun di selesaikan Hari dengan baik. Ia menghentikan jago Malaysia, Rashid Sidek dengan straight game, 15-6 15-11. Gunawan/Bambang yang turun pada partai kedua juga ikut menambah kemenangan bagi Indonesia. Mereka mempecundangi ganda Malaysia Chean Soon Kit/Soo Beng Tiang dengan 15-10, 6-15, 15-8.

Strategi menempatkan Ardy B Wiranata sebagai tunggal kedua Indonesia sangat tepat. Berbekal permainan Rally, Ardi menghentikan Ong Ewe Hock, 15-11, 15-5. Dua partai sisa sebenarnya harus dipertandingkan, tetapi karena suasana Istora penuh dengan euforia kemenangan, membuat pertandingan lanjutan urung dimainkan. Indonesia dinyatakan menang 3-0 atas Malaysia. Kemenangan tim putra Indonesia mengikuti tim putri. Susy Susanti dan kawan-kawan terlebih dahulu berhasil meraih piala Uber usai menang dari Tiongkok dengan 3-2. (AR)