Turnamen Internasional
Home > Berita > Turnamen Internasional > [BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015] Euforia Penonton Istora
01 Januari 2005
[BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015] Euforia Penonton Istora
 
 

Istora Senayan, Jakarta memang terkenal angker bagi setiap pemain bulutangkis dunia. Di balik keangkerannya justru membuat para pemain  ingin terus dan terus datang ke Indonesia. Aura keangkeran tidak terlihat dari gedung yang boleh di bilang megah untuk ukuran Indonesia, tetapi  juga datang dari penontonnya yang bisa terbilang fantastik. Sejak hari pertama yang hanya mempertandingkan babak kualifikasi, penonton sudah berjubel memenuhi Istora Senayan. Tiket Box sudah di serbu pengunjung jauh sebelum gerai  di buka. Antrian pun mengular hingga beberapa puluh meter.

Di dalam gedung tak kalah riuh rendahnya. Tepukan, teriakan penonton selalu membahana tanpa putus-putusnya. Ibarat penonton liga Inggris, begitulah keriuhan yang di timbulkan oleh penonton Istora. Berbagai aneka lagu di nyanyikan dari awal hingga pertandingan usai tanpa pernah berhenti. Belum lagi berbagai alat musik di tabuh, di tiup membuat arena Istora Senayan mirip dengan konser musik. Atribut yang di kenakan pun mengundang perhatian. Ada yang datang dengan baju safari tapi berdasikan merah putih, ada yang membawa kurungan ayam yang telah di modifikasi dengan warna merah putih, ada juga yang mengenakan baju daerah lengkap dengan topi yang terbuat dari shutlecock.

Vita Marissa, pemain bulutangkis senior pun menuturkan jika ia sampai tidak bisa mendengar percakapannya dengan partnernya saat ia sedang bertanding di lapangan. Yang menarik, tak satupun pemain dunia merasa terusik dengan kebisingan yang di timbulkan oleh penonton. Mereka justru menikmati setiap suara yang di timbulkan oleh penonton. Hampir seluruh pemain yang datang ke Istora justru karena ingin menikmati hiruk pikuk kegaduhan yang tidak pernah di temui di negara manapun. Para pemain Denmark selalu menyatakan ingin kembali untuk bisa bertanding dan menyaksikan aksi penonton Isrota. Duo kembar China Luo Yu/Luo Ying berpendapat sama. Meski para penonton mungkin tak mendukungnya, tetapi ia suka akan kemeriahan yang di tampilkan oleh penonton Istora. Kento Momota, sang juara tunggal putra asal Jepang sampai mengucapkan terimakasih atas dukungan penonton selama pertandingan babak final. Hal yang sama juga dirasakan pada Ratchanok Inthanon. Ia merasa sedang bertanding di negerinya sendiri. “Semua memanggil nama saya, rasanya menyenangkan sekali. Walaupun bukan bertanding di Thailand, tetapi saya merasa di rumah sendiri. Hari ini saya bermain tak hanya untuk Thailand, tetapi juga buat semua pendukung saya di Indonesia,” ujarnya.

Terbukti.  Para penonton Indonesia umumnya, atau Istora khususnya sudah semakin dewasa mengartikan arti sportifitas. Para penonton yang notabene adalah orang Indonesia tak hanya menjadi pendukung fanatik bagi pemain tuan rumah, tetapi juga suporter yang baik bagi para tamu yang berasal dari manca negara. (AR)