
Sejarah baru tercipta di ajang BWF World Junior Championships 2026. Dua wakil tunggal putra Indonesia berhasil memastikan tempat di partai final dan akan saling berhadapan untuk memperebutkan gelar juara pada Sabtu (17/10) di Cairo International Stadium, Kairo, Mesir.
Wakil pertama Indonesia yang memastikan tiket final adalah Fardhan Rainanda Joe. Ia sukses menundukkan unggulan pertama asal Prancis, Mady Sow, melalui pertarungan sengit tiga gim dengan skor 11-15, 15-8, 16-14.
Tak berselang lama, Radithya Bayu Wardhana turut menyusul ke partai puncak. Ia mengalahkan wakil India, Jagsher Singh Khangurra, dengan skor 15-6, 13-15, 15-3.
Hasil ini menjadi catatan bersejarah bagi tunggal putra Indonesia di ajang World Junior Championships (WJC). Sejak kejuaraan ini pertama kali digelar pada 1992, baru pada edisi 2026 Indonesia berhasil menciptakan all Indonesian final di nomor tunggal putra.
Pelatih tunggal putra Pelatnas Pratama, Wiempie Mahardi, mengaku sangat senang dengan pencapaian anak didiknya. Menurutnya, hasil ini menjadi buah dari persiapan maksimal yang dilakukan dalam waktu relatif singkat.
“Cukup senang, tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Dengan persiapan hanya dua minggu kemarin, kami mencoba melakukan yang terbaik. Setiap hari persiapan dan latihan dilakukan semaksimal mungkin. Selebihnya, tetap berusaha dan berdoa karena pasti ada jalannya,” tutur Wiempie.
Ia juga mengaku tidak menyangka kedua anak didiknya mampu melangkah bersama hingga ke partai final. Namun, ia percaya bahwa setiap rintangan dapat dilewati dengan usaha dan keyakinan.
“Sama sekali tidak menyangka. Tetapi, kalau Tuhan sudah memberikan jalan, satu per satu rintangan pasti bisa kita lewati,” ujarnya.
Menurut Wiempie, penerapan sistem skor baru 15 poin membuat pertandingan semakin sulit diprediksi. Dalam situasi tersebut, ia selalu menekankan kepada anak didiknya agar mampu mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik saat bertanding.
“Dengan sistem 15 poin ini, apa pun bisa terjadi. Yang penting, semua kemampuan yang kita punya harus dikeluarkan secara maksimal di pertandingan,” jelasnya.
Meski berhasil mengukir prestasi membanggakan, Wiempie mengingatkan Radithya dan Fardhan agar tidak cepat berpuas diri. Ia menegaskan bahwa perjalanan karier keduanya masih panjang dan membutuhkan proses serta kerja keras yang berkelanjutan.
“Tetap harus belajar lagi, jangan gampang puas. Perjalanan masih panjang. Tetap berproses secara maksimal. Tidak ada yang bisa menjamin seperti apa perjalanan setelah menjadi juara dunia junior (WJC). Jadi, harus berlatih lebih keras lagi,” tegas Wiempie.
Menatap laga final, Wiempie berharap Radithya dan Fardhan dapat tampil maksimal dan memberikan yang terbaik. Sementara itu, ia memilih menikmati pertandingan dari luar lapangan.
“Di final, ya, sudah lakukan yang terbaik saja. Saya tinggal menonton sambil ngopi,” tutup Wiempie sambil tertawa. (AH)
