
Laga perang saudara di final tunggal putra BWF World Junior Championships 2026 akhirnya dimenangkan oleh Radithya Bayu Wardhana. Ia sukses mengalahkan rekan senegaranya, Fardhan Rainanda Joe, melalui pertarungan sengit tiga gim dengan skor 15-9, 11-15, 15-8. Pertandingan tersebut berlangsung pada Sabtu (17/10) di Cairo International Stadium, Kairo, Mesir.
“Alhamdulillah, puji syukur bisa juara di WJC yang pertama kali saya ikuti,” ujar Radithya.
Radithya mengaku mampu mengawali pertandingan dengan baik. Namun, ia sempat kehilangan kendali permainan pada gim kedua sebelum akhirnya kembali menemukan fokus di gim penentuan.
“Dari gim pertama, saya langsung in. Sempat kejar-kejaran dan saat saya unggul, Fardhan bisa berbalik unggul, tetapi saya sudah mengantisipasinya. Di gim kedua, saya sempat unggul juga, tetapi fokus saya menurun sehingga bisa tersusul oleh Fardhan. Di gim ketiga, saya kembali fokus dan akhirnya bisa juara,” papar Radithya.
Menurut Radithya, pertandingan final tersebut memang diprediksi berlangsung ketat. Pengalamannya beberapa kali berhadapan dengan Fardhan di turnamen sebelumnya membuatnya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan panjang.
“Pertandingan tadi memang sudah saya duga bakal sengit karena kami sudah bertemu di beberapa turnamen dan sering bermain tiga gim. Jadi, saya sudah siap di lapangan tadi,” ungkapnya.
Bagi atlet yang lolos dari Audisi Umum PB Djarum 2018 ini, gelar juara dunia junior menjadi pencapaian yang sulit dipercaya. Radithya mengaku masih merasa seperti bermimpi bisa berdiri sebagai juara di ajang bulu tangkis junior paling bergengsi di dunia tersebut.
“Masih berasa mimpi karena tidak menyangka bisa juara dunia junior. Namun, saya belum puas karena masih ada tantangan yang lebih sulit ke depannya,” tutur Radithya.
Berkat keberhasilannya meraih gelar juara dunia junior, Radithya juga berpeluang melanjutkan perjalanan kariernya di Pelatnas PBSI, Cipayung. Ia berharap dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menimba ilmu dan mengembangkan kemampuannya bersama para pemain senior.
“Semoga setelah masuk Pelatnas, saya bisa belajar banyak dari senior dan bisa menampilkan yang terbaik,” katanya.
Ketika ditanya mengenai karakternya di lapangan yang cenderung tenang dan jarang menunjukkan ekspresi berlebihan, Radithya mengaku hal tersebut memang sudah menjadi pembawaannya sejak kecil.
“Semua orang pasti tegang, tetapi memang bawaan saya seperti ini,” ucap Radithya sambil tersenyum.
Menutup perbincangan, Radithya mempersembahkan gelar juara dunia junior ini untuk orang-orang yang telah mendukung perjalanan kariernya, mulai dari keluarga hingga klub yang membesarkannya.
“Gelar ini saya persembahkan untuk orang tua, om, keluarga besar, klub PB Djarum, dan pastinya untuk Indonesia,” pungkas Radithya. (AH)
