
Selalu ada cerita menarik di arena Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Dan kali ini, tiga peserta berasal dari PB Asmat, Papua. Dengan jarak yang terbentang antara Papua dan Pulau Jawa, perjalanan pun harus mereka tempuh selama satu hari penuh.
“Perjalanan kami satu hari. Kami dari Kota Agas, kemudian ke Timika. Dari Timika baru ke Makassar, dan Makassar baru ke Surabaya, kami sudah tiba tanggal 18 April lalu,” ujar Amirullah, pelatih PB Asmat.
Perjalanan panjang pun terbayar. Ketiga atlet mereka, Agustinus Bisak, Reza Ramdhani dan Ariandi Dwi Fajar Asmat berhasil lolos dari tahap screening yang digelar pada Sabtu (23/4). “Sebelum Audisi Umum kami memang sudah memiliki persiapan. Kami berlatih setiap hari setiap mereka pulang sekolah, dan yang kami bawa ke sini pun adalah mereka yang kami anggap paling berpotensi,” lanjutnya.
Di sisi lain, Agustinus, bernomor punggung 0060 mulai mencitai bulutangkis karena keisengannya bermain olahraga tepok bulu ini. “Awalnya ikut-ikut saja, tetapi beberapa kali pertandingan seperti Agustusan sering juara. Jadinya keterusan dan saya ingin jadi pebulutangkis,” ujar atlet yang mengidolakan Taufik Hidayat ini.
Agustinus sudah berlatih bulutangkis dalam tiga tahun terakhir. Siswa kelas dua SMP YPPK Salib Suci, Asmat ini pernah menyabet juara ketiga di turnamen Bupati Cup. Saat ditanya apakah ia siap jika berhasil menerima beasiswa bulutangkis dan tinggal di Kudus, dengan meyakinkan Agustinus menjawab bahwa dirinya sudah sangat siap.
“Jika harus tinggal di asrama, saya sudah siap,” pungkas anak keenam dari delapan bersaudara pasangan Petrus Waman dan Claudia Yayim ini.
Persaingan menuju super tiket tentu tak akan mudah. Agustinus harus bersaing bersama 63 atlet lainnya di sektor tunggal putra U15 yang juga lolos ke tahap kedua. Selamat berjuang Agustinus! (RI)
