
Setelah bergabung bersama PB Djarum melalui Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis di tahun 2007, Kevin Sanjaya Sukamuljo pun berhak untuk mendapat beasiswa bulutangkis. Ia mendapat berbagai fasilitas untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain bulutangkis dunia.
Kevin kecilpun pun harus meninggalkan jauh keluarganya yang tinggal di Banyuwangi, dan pindah ke asrama PB Djarum yang terletak di Kudus. Ia mendapat pelatihan, berbagai fasilitas dan sarana penunjang termasuk kesempatan untuk bertanding di berbagai turnamen.
Di satu setengah tahun pertama bergabung bersama PB Djarum, ia masih terus menekuni keinginannya untuk bisa menjadi atlet papan atas di sektor tunggal, tetapi prestasi di tunggal putra tak kunjung datang menghampiri.
Dahaga Kevin akan gelar juara pun akhirnya terobati. Kevin meraih gelar pertamanya bersama PB Djarum di awal tahun 2010. Kala itu ia sukses menjadi juara di nomor ganda remaja putra bersama Kenny Putra Aviancy di Djarum Sirkuit Nasional Kalimantan Open 2010.
Baca juga: Kegagalan Tak Hentikan Kevin Wujudkan Mimpi
“Di dua tahun awal Kevin memang tidak pernah juara di nomor tunggal. Dan akhirnya di tahun 2010 dia bisa juara, kemenangan itu, fotonya masih saya simpan sampai sekarang. Itu salah satu moment yang paling saya ingat,” ujar sang ayah, Sugianto Sukamuljo.

“Waktu itu saya diajak ke Kudus, ada dua atlet yang harus dilihat potensinya. Dan salah satunya adalah Kevin, saat itu saya tidak menyangka bahwa Kevin bisa seperti sekarang, hanya memang potensinya sudah terlihat sejak dia kecil,” ujar pelatih ganda pemula putra, Ade Lukas.
Kevin yang pernah menolak untuk pindah ke nomor tunggal pun akhirnya mantap untuk berkarir sebagai pemain ganda. “Ya waktu itu memang sempat menolak untuk pindah ke ganda, karena masih kecil, masih remaja. Jadi waktu itu masih pengen coba untuk di tunggal, tetapi ternyata saya lebih berprestasi di ganda. Ya sudah, saya mantap untuk menjadi pemain ganda,” cerita Kevin.
Baca juga: Mengejar Mimpi, Kevin Tinggal Jauh Dari Keluarga
Berpindah dari nomor tunggal ke ganda, Kevin pun bahkan harus tinggal lebih jauh dari kedua orang tuanya. Ia harus pindah ke Jakarta, di mana asrama ganda PB Djarum berada. Keinginan kerasnya untuk menjadi juara, membawanya ke level berikutnya.
“Saya paling ingat Kevin waktu dia main di Singapore International Series tahun 2011. Waktu itu dia masih junior, masih 15 atau 16 tahun, tetapi main di nomor dewasa. Dia bisa mengalahkan pemain-pemain yang lebih senior kala itu, dan bahkan mendapat prestasi yang bagus. Dia bsia masuk final,” ujar pelatih Kevin saat taruna, Sigit Budiarto.
Bersama PB Djarum, Kevin diturunkan diberbagai turnamen baik nasional maupun internasional. Ia berhasil menjadi juara Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Perorangan Taruna PP PBSI pada tahun 2012, ia pun tercatat memperkuat merah putih di ajang Kejuaraan Asia Junior (AJC) dan Kejuaraan Dunia Junior (WJC) 2013. Ia sukses menyabet dua medali perunggu di AJC melalui nomor ganda campuran dan beregu, sementara di WJC ia berhasil meraih medali perak, juga di nomor ganda campuran dan beregu. Sederet prestasi di nomor junior inilah yang akhirnya membawa Kevin dipanggil oleh Pelatnas, dan bergabung bersama tim elit bulutangkis tanah air itu.
Usai bergabung bersama Pelatnas. Kevin pun difokuskan untuk bertarung di nomor ganda putra, di tahun pertama Kevin diduetkan dengan Selvanus Geh. Gelar juara Bulgarian International Challenge berhasil mereka raih, dan di pertengahan tahun 2015 Kevin yang kehilangan pasangannya setelah Selvanus tak lagi bergabung bersama Pelatnas, akhirnya dipasangkan dengan Marcus Fernaldi Gideon, hingga menjadi Kevin/Marcus yang kita kenal saat ini. Kevin/Marcus yang berhasil menjadi juara All England, Kevin/Marcus yang berhasil juara di tiga turnamen beruntun, Kevin/Marcus yang dijuluki minions oleh netizen, dan Kevin/Marcus yang kini menjadi salah satu andalan tim merah putih di nomor ganda. (RI)
Baca juga: Karena PB Djarum Gerbang Menuju Pentas Dunia
