
Audisi Umum pencarian bakat bulutangkis PB Djarum kembali menyapa Kota Pekanbaru pada tahun 2026. Ajang pencarian bibit-bibit pebulutangkis masa depan ini menjadi momen napak tilas untuk melihat kembali perbandingan kualitas dan antusiasme peserta, khususnya jika disandingkan dengan kesuksesan Audisi Umum pada tahun 2018 silam.
Yuni Kartika, salah satu Tim Pencari Bakat PB Djarum, mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan dinamika yang cukup signifikan antara penyelenggaraan Audisi Umum 2018 dan 2026 di Pekanbaru. Perbedaan tersebut mencakup segi kuantitas peserta, format penyeleksian, hingga proses pembinaan.
Yuni menuturkan, pada tahun 2018, euforia masyarakat terhadap bulutangkis sangat masif, sehingga jumlah peserta yang mendaftar dan mengikuti seleksi jauh lebih banyak. Menurunnya jumlah peserta di tahun 2026 ini diakuinya sempat memunculkan keresahan di kalangan tim pemantau bakat.
"Yang sebenarnya kita resahkan kemarin adalah, 'Wah ini pesertanya sedikit, kualitasnya bagaimana ya?'," ungkap Yuni. Penurunan ini dinilai wajar mengingat adanya jeda waktu yang cukup panjang sejak audisi terakhir pada 2018.
Namun, kekhawatiran tersebut seketika terbantahkan saat peserta turun ke lapangan. Mantan srikandi bulutangkis Indonesia itu menegaskan bahwa kualitas peserta tahun 2026 sangat menggembirakan.
"Ternyata kita tidak perlu (khawatir) seperti itu. Karena secara potensi dasar, atau 'bahan' dari anak-anak ini, sangat memenuhi syarat untuk bisa ikut karantina langsung di Kudus nanti," tegasnya.
Selain persoalan jumlah peserta, Yuni juga menyoroti adanya penyesuaian format seleksi. Pada era 2018, audisi diselenggarakan di banyak kota di Indonesia. Banyaknya lokasi membuat penyelenggara harus menyaring kembali peserta lewat tahap Grand Final di Kota Kudus sebelum mereka benar-benar masuk ke tahap karantina asrama.
Sementara pada tahun 2026, titik audisi dipusatkan hanya di tiga kota, yakni Pekanbaru, Makassar dan Kudus. Dengan format yang lebih terpusat ini, alur seleksi menjadi lebih ringkas. Peserta yang lolos di Pekanbaru akan langsung diberangkatkan ke tahap karantina di Kudus tanpa harus melewati fase Grand Final.
Satu hal yang paling disyukuri oleh Tim Pencari Bakat PB Djarum pada audisi 2026 ini adalah konsistensi munculnya talenta luar biasa dari luar Pulau Jawa. Pekanbaru selalu menjadi lumbung atlet berbakat, dan standar emas untuk itu selalu merujuk pada hasil Audisi Umum 2018 yang sukses menemukan sosok Jolin Angelia serta Radithya Bayu Wardhana.
"Yang lebih menyenangkan adalah pemain-pemain dari luar Pulau Jawa. Artinya, kami melihat potensi dari luar Pulau Jawa itu juga sangat baik, seperti halnya kami melihat Jolin," papar Yuni Kartika.
Kesuksesan Jolin Angelia memang menjadi motivasi utama dalam audisi tahun ini. Lulusan audisi Pekanbaru 2018 itu kini telah bergabung dalam skuad nasional di Pelatnas PBSI. Ditempa keras di PB Djarum, Jolin sukses merajai berbagai ajang bergengsi seperti Sirkuit Nasional (Sirnas) Banten dan Jawa Tengah 2023.
Puncaknya, pada awal tahun 2026, Jolin sukses menjadi juara tunggal taruna putri pada ajang Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI. Kemenangan itu membawanya resmi menjadi bagian dari Pelatnas PBSI. Bahkan, di tahun yang sama, Jolin sudah dipercaya membela Indonesia di kancah internasional pada ajang bergengsi Badminton Asia Junior Championships (AJC) 2026 di Jepang.
Bermodalkan inspirasi dari jejak gemilang Jolin Angelia, Yuni Kartika mengingatkan bahwa lolos audisi di Pekanbaru barulah langkah awal. Ujian sesungguhnya bagi para peserta terpilih ada pada masa karantina di Kudus.
Dalam tahap yang lebih panjang ini, aspek penilaian akan jauh lebih mendalam dan tidak hanya berfokus pada teknik bermain.
"Jadi yang akan kita lihat lebih panjang adalah proses dari anak ini. Lebih kepada karakter, kemudian kemandirian, dan ketahanan mengikuti frekuensi latihan kita. Itu yang nanti juga akan menentukan apakah kita akan mendapatkan 'Jolin-Jolin' berikutnya di audisi ini," pungkas Yuni. (NFA)
