Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum PB Djarum 2026] Apa yang Perlu dilakukan Saat Anak Mengalami Kekalahan?
10 September 2026
[Audisi Umum PB Djarum 2026] Apa yang Perlu dilakukan Saat Anak Mengalami Kekalahan?
 
 

Dalam perjalanan untuk menjadi seorang atlet hebat, tentu harus melalui proses Panjang. Kekalahan dan kemenangan adalah suatu hal biasa terjadi dialami oleh setiap atlet, terutama atlet bulu tangkis.

Ketika seorang anak yang mendapat kemenangan, tentu sebagai pelatih maupun orang tua hampir seluruhnya berperilaku yang sama, yaitu memberi apresiasi dan memberikan sikap positif dari segala hal.

Sebaliknya, tak jarang pelatih maupun orang tua ketika menghadapi anaknya mengalami kekalahan, sikap yang ditunjukkan adalah kekecewaan, cacian bahkan amarah yang secara otomatis menjadikan munculnya sikap negatif.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh pelatih maupun orang tua saat menghadapi anaknya yang baru saja menghadapi dua hal tersebut?

Kholifah Umi Sholihah, Dosen Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) mengatakan ada sikap yang harus diperhatikan ketika menghadapi sang anak yang baru saja menang atau kalah. Hal itu disampaikan Kholifah di sela-sela penyelenggaraan Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus, Kamis (10/9) di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah yang dihadari oleh pelatih dan orang tua atlet peserta.

“Kalau menang, tentu meberikan selamat dan apresiasi itu sangat wajar dan memang seharusnya. Tetapi saat mempunyai inisiatif untuk memberikan bonus berupa hadiah, jangan sekali-kali memberikan hal yang berlebihan. Sewajarnya saja, karena jika berlebihan akan berpengaruh pada pola pikir anaknya itu sendiri kedepannya. Misal hasil di pertandingan berikutnya ia kalah, mental mereka akan terganggu yang justru menjadikan anak tidak fokus, karena yang dia pikirkan hanya bonus atau hadiah yang sebenarnya ia harapkan, bukan siapa lawan yang mereka hadapi,” ungkap Kholifah.

“Sebaliknya ketika anak mengalami kekalahan, banyak orang tua yang marah karena tidak mencapai target. Orang tua dan pelatih sangat berperan penting saat situasi ini. Jangan buru-buru mengevaluasi. Beri waktu dan ruang untuk atlet memproses perasaannya terlebih dahulu sebelum bicara soal perbaikan. Dengarkan apa yang menjadi kendalanya di pertandingan, berikan motivasi untuk bisa belajar dari kekalahan dan memperbaiki diri di pertandingan berikutnya. Lalu berikan terus kepercayaan pada anak, karena dia perlu yakin bahwa orang tua percaya pada kemampuan dan prosesnya,” jelas Kholifah.

Dengan demikian kita tidak bisa memastikan atlet selalu menang, tetapi kita bisa memastikan ia tidak berjalan sendirian. Dengarkan, dukung dan percaya adalah tiga pilar penting untuk membentuk seorang atlet hebat. (AH)