Diluar Arena
Home > Berita > DILUAR ARENA > Butet Sempat Mau Usaha Bengkel Mobil, Jika Gagal Sebagai Atlet
22 Agustus 2020
Butet Sempat Mau Usaha Bengkel Mobil, Jika Gagal Sebagai Atlet
 
 

Legenda ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir atau yang lebih akrab dipanggil Butet menceritakan kisah perjalanan karirnya. Kisah ini ia sampaikan pada kanal YouTube milik mantan Ketua Umum PBSI, Gita Wirjawan. Mau tahu seperti apa ceritanya? Simak yang berikut.

Ceritanya panjang, saya lahir di Manado yang bisa dikatakan dari daerah, karena biasanya yang berprestasi berasal di Jawa. Biasanya, kami agak sedikit kurang percaya diri, kurang pertandingan, kurang sparing. Itu yang membuat orang daerah seperti kami jadi kalah mental dulu. Tetapi itu bukan ada dalam diri saya, karena diri saya merasa selama kita berusaha maksimal, tidak ada yang tidak mungkin.

Di usia 9 tahun, layaknya anak kecil hobi-hobi saja main bulutangkis di depan rumah, dan saya pun awalnya suka berbagai macam olahhraga seperti basket dan renang. Tapi saat usia 10 tahun, mama sendiri lebih mendukung fokus di bulutangkis dan memberikan alasannya.

Bulu tangkis salah satu olahraga kebanggaan Indonesia dan salah satu olahraga yang bisa menharumkan nama bangsa di kancah international,” kata mama saya.

Menurut mama dan papa, kalau milih basket atau renang kecil kemungkinan untuk saya bisa mendunia. Singkat cerita saya sambil sekolah dan ikut ekstrakurikuler, sambil juga masuk klub. Saya coba tes di klub dan diterima, dan di sana mulai berlatih intensif.

Dari sana melalui perjalanan panjang dan lika-liku yang saya hadapi, tak semudah kata orang yang hanya melihat saya juara dunia dan juara Olimpiade, tetapi jaman itu jaman tersulit bagi saya. Saya baru masuk klub dan harus berkompetisi dengan teman-teman dan kami di daerah harus jadi yang terbaik. Dengan itu kami bisa mendapat kesempatan dikirim bertanding ke Jawa.

Setelah menginjak umum 12 tahun orang tua bilang, "Kita mau jalan-jalan ke Semarang dan ke Jakarta.”

Ternyata, saat itu saya dicoba test masuk ke klub. Untungnya, saya punya mental yang tidak ciut dulu. Pemain daerah suka minder duluan, kalau tes di Jawa. Tetapi saya mencoba dulu, dan mama sangat mendukung. Waktu itu saya bisa bersaing walaupun kalah, dan menurut pelatih sudah diterima, tetapi saya masih harus bayar latihan di klub dan kost biaya sendiri. Setelah itu mama kasih pilihan sama saya.

Kamu mau stay di sini atau pulang lagi ke Manado?” cerita perempuan yang akrab dipanggil Ci Butet ini.

Okelah saya mau dan tertantang, yang penting mama menemani saya dulu di kost selama satu bulan. Setelah satu bulan rasanya dunia kiamat saat mama pulang karena saat itu baru umur 12 tahun itu. Saya harus melakukan semuanya sendiri.

Dulu kalau saya latihan, papa selalu review hasil pertandingan saya. Di Jakarta, papa nggak bisa lihat langsung. Papa hanya memberi dukungan saja.

Jangan salah pergaulan, jangan ikut yang lain kalau yang lain malas, kamu pemain daerah harus lebih dari yang lain karena papa dan mama jauh,” kata papa.

Dulu, kalau kalah saya diomelin papa, di-review terus-terusan. Lalu, latihan skiping, berenang, suruh latihan datang lebih awal, itu dari 9-12 tahun.

Kalau mama saya dulu lebih mendukung gizi. Pagi disiapkan telur setengah matang, vitamin ikan, madu, dan makan jangan sampai telat. Kadang kalau papa keterlaluan, mama suka melerai papa karena takutnya saya down.

Waktu di klub karena nggak ada orang tua, ada peran pengganti Oo saya (kakak papa). Setiap libur om saya suka jemput saya untuk ajak refreshing, makan, dan itu membantu saya.

Pulang ke Manado satu tahun sekali hanya untuk Natal, dan waktu itu tiket cukup mahal juga. Jadi kalau orangtua ke Jakarta lebih mahal.

Masa terberat itu waktu saya awal masuk Pelatnas tahun 2002. Itu benar-benar penuh tekanan dan persaingan, terus juga berpikir kalau kalah terus bisa degradasi dan harus pulang ke Manado. Dari sana saya berpikir dan berusaha bagaimana caranya untuk bisa bertahan. Dulu sempat berpikir kalau gagal paling melanjutkan usaha orang tua. Usaha bengkel dan onderdil mobil.

Di sepuluh pertandingan tahun pertama saya di Pelatnas selalu kalah di babak pertama dan kedua. Waktu itu merasa down karena banyak omongan-omongan yang tidak enak dari senior-senior. Saya dikirim pertandingan terus tapi nggak pernah menang. Tetapi selama dikasih kesempatan saya berusaha terus, dengan penuh air mata, down, tetapi Tuhan sudah punya rencana.

Saya main PON mewakili Sulawesi Utara bersama pasangan saya, dan ketemu Nova Widianto/Vita Marissa yang mewakili DKI Jakarta. Waktu itu kita udah ngerasa kalah, tetapi di situ saya berusaha maksimal walaupun kalah tapi bisa bersaing. Setelah itu saya bertemu kak Ichad (Richad Mainaky) di ruang atlet.

Heh Yana mau main mix, gak?

Lalu saya bilang dengan tegas, “Mau kak!

Dari situ awal mula saya bermain di ganda campuran. (ah)