Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > [Ketum PBSI Dari Masa ke Masa] Padmo Soemasto (1965-1967)
20 Oktober 2020
[Ketum PBSI Dari Masa ke Masa] Padmo Soemasto (1965-1967)
 
 

Perjalanan Padmo Soemasto RM, SH sebagai Ketua Umum PB PBSI relatif singkat, tidak lebih dari dua tahun yakni periode 1965-1967. Sebelumnya, dalam kepengurusan Soekamto Sajidiman periode 1963-1965, Padmo duduk sebagai Wakil Ketua Umum.

Padmo Soemasto lahir sebagai putra ketiga dari 15 bersaudara. Ibunya, Raden Ayu Harkinah dan ayahnya, R. Soedji yang merupakan mantan Kepala Lalu Lintas dan Perniagaan Kantor Besar Djawatan Kereta Api di Bandung. Saudara kandungnya antara lain Prof. Dr. Padmo Wahyono SH, Wakil Ketua BP 7 Pusat; Prof. Dr Padmosantjojo yang dikenal sebagai ahli bedah yang memisahkan bayi kembar dari Riau dan dr. Padmo Hoedoyo, Direktur Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

Padmo senang berolahraga sejak menjadi siswa di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Ketabang. Kesenangannya dalam olahraga mendapat tempaan dari Van Belt, guru olahraga yang tahun 1940-an menjadi kampiun Nederlands Indische Atletik Unie (NIAU, semacam PASI)

Sebelum menjabat sebagai ketua PBSI, Padmo pun sudah gemar dengan olahraga tepok bulu ini. Bahkan sebelumnya, ia sudah terhubung dengan beberapa nama-nama pemain bintang saat itu seperti Eddy Yusuf dan Tan King Gwan.

Setelah susunan kepengurusan disempurnakan pada periode 1965-1967, kendala lain muncul. Krisisnya pemain-pemain berkualitas sangat tinggi. Padmo pun mengadakan program darurat, meningkatkan kualitas pemain dan memacu prestasi pemain-pemain muda. Pada masa inilah muncul nama Rudy Hartono.

Badai yang menimpa PBSI mencapai klimaksnya ketika diterjang peristiwa yang dikenal sebagai “Peristiwa Scheele”, peristiwa dihentikannya pertandingan final Thomas antara Indonesia VS Malaysia. Kejadian itu membuat Padmo mendapat kritikan tajam. Namun, hal tersebut diterima dengan jiwa besar dan semangat yang menjadi prinsipnya, “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan”.

Pada akhir Juli 1967, kepengurusan Padmo mengundurkan diri. Meski singkat, sebuah kenangan yang monumental diwariskan kepada kepengurusan Padmo Soemasto yang dikaruniai 3 orang putra — putri dari perkawinannya dengan R.A Siti Poedjani. Pada masanya diresmikan lambang PBSI dan Mars PBSl yang mulai diresmikan pada Oktober 1965.

Berkat jasa-jasanya pada dunia olahraga Indonesia, Padmo Soemasto mendapat penghargaan berupa Lencana Kebudayaan R.I pada 27 Desember 1966. (ah)