Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > Peran Legenda Dalam Audisi
02 Mei 2016
Peran Legenda Dalam Audisi
 
 

Audisi Umum Bea siswa Bulutangkis Djarum 2016 telah berjalan dengan baik di delapan kota dari sembilan kota yang direncanakan. Kudus merupakan kota terakhir sekaligus gran final Audisi Umum pada awal September mendatang. Selama pelaksanaan Audisi, PB Djarum menggandeng para legenda bulutangkis Indonesia untuk menjadi tim pencari bakat.

“Pengamatan tajam dan mata elang para legenda dibutuhkan untuk menemukan atlet-atlet yang mempunyai bakat super,” tutur Yoppy Rosimin selaku Program Director Djarum Foudation dalam berbagai kesempatan.

Tidak tanggung-tanggung, legenda yang turun gunung di Audisi ini merupakan pemain-pemain papan atas di era-nya. Sebut saja Christian Hadinata yang didaulat sebagaii ketua tim pencari bakat. Semasa aktifnya, Christian menjuarai All England dua kali 1972-1972, juara dunia 1980 dan puluhan gelar juara lainnya. Belakangan, Ade Chandra yang selama 11 tahun menjadi pasangan Christian juga turun gelanggang di Audisi Cirebon.

Para mantan pemain top lainnya tumpah ruah ke Audisi seperti Johan Wahyudi (juara All England 6 kali), Liem Swie King (juara All England 3 kali), Kartono (juara All England 2 kali), Sigit Budiarto (juara dunia & juara All England), Hariyanto Arbi (juara dunia & juara All England), Denny Kantono (Perunggu Olimpiade), Antonius Budi Ariantho (perunggu Olimpiade), Hastomo Arbi (pahlawan tim Thomas Cup Indonesia 1984), Bobby Ertanto (runner up All England) dan Lius Pongoh (juara Indonesia Open).

Tidak ketinggalan, pasangan emas Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budi Kusuma dan Susy Susanti.  Dibagian putri, selain Susy Susanti, kerap hadir pula Maria Kristin (perunggu Olimpiade), Vita Marissa (juara Indonesia Open), Maria Fransiska (juara Indonesia Open), Ivana Lie (juara Indonesia Open), Yuni Kartika dan (juara dunia yunior).

Para legenda ini bertugas mengamati para atlet muda di kota dalam Audisi di kota yang didatanginya. Mereka memilih atlet yang ikut dalam tahap screening untuk diloloskan ke tahap turnamen. Dalam pemilihan pemain, para legenda sudah menyiapkan kreteria bagi atlet yang akan dipilih.

“Dalam memilih pemain berbakat, yang utama, saya melihat foot work.  Kemudian cara memukul, karena kalau sudah salah, maka akan menjadi PR yang sangat berat bagi pelatih PB Djarum nantinya. Pertimbangan lain adalah mental pemain. Dari usia-usia kecil, mudah terlihat mana atlet yang mudah ngambek dan gampang menyerah,” ungkap Yuni Kartika, salah seorang anggota tim pencari bakat.

Hal serupa juga diamini oleh anggota pencari bakat lainnya Lius Pongoh.

“Kita mengamati atlet peserta dari memukul bola, bunyinya saja sudah beda yang bagus atau gak. Posisi kaki dan tangannya selalu pas, kalau kakinya pas maka ia mengambil bolanya selalu diatas. Kalau sering ambil dibawah, berarti ketinggalan,” kata Lius menerangkan.

Setelah turnamen berjalan, para legenda tetap melakukan pengamatan. Bila ada pemain yang berbakat super tetapi kalah, maka para legenda akan memberikan super tiket tambahan kepada atlet tersebut. Super tiket tambahan ini diumumkan disesi akhir Audisi setiap kotanya.

Namun makna kehadiran para legenda tersebut, tidaklah hanya sebatas tugasnya. Dengan bertemu langsung para mantan pemain top Indonesia tersebut, memberikan motivasi tersendiri bagi para peserta Audisi. Tidak jarang para atlet cilik mengidolakan para legenda tersebut dan bertekad mempunyai prestasi seperti idolanya. Tidak heran, disela-sela acara Audisi, para legenda sering diserbu atlet maupun orang tua atlet untuk sekedar berfoto maupun minta tanda tangan.

Lebih dari itu, kehadiran para legenda dan Audisi itu sendiri adalah untuk menggairahkan bulutangkis didaerah-daerah yang disinggahi. Harapannya, dengan semakin banyak yang bermain bulutangkis, maka akan muncul tunas-tunas muda yang akan menjadi pahlawan Indonesia di masa mendatang. (HK)