
Tidak bisa dipungkiri, jika sektor ganda putra selalu menjadi penyelamat Indonesia di berbagai kejuaraan bulutangkis. Sejarah membuktikan pada Kejuaraan Dunia atau BWF World Championships, ganda putra Indonesia muncul sebagai pengumpul gelar terbanyak. Sejak kejuaraan ini bergulir pertama kali pada tahun 1977, Indonesia sudah mengoleksi gelar sebanyak sepuluh kali. Indonesia lebih unggul dari China, yang meraih delapan kali gelar juara. Bahkan pebulutangkis senior Hendra Setiawan mengoleksi empat gelar juara dengan dua pasangan yang berbeda. Hendra menyamai rekor pasangan China, Cai Yun/Fu Haifeng yang sama-sama meraih empat gelar juara.
Gelar pertama kejuaraan dunia langsung disabet oleh Indonesia. Tjun Tjun/Johan Wahyudi membuka lembaran sejarah kejuaraan dunia pada tahun 1977 dengan merebut gelar juara saat Swedia hadir sebagai penyelenggara. Tiga tahun berikutnya atau tepatnya pada 1980 giliran pasangan Ade Chandra/Christian Hadinata yang tampil sebagai kampiun.
Indonesia berjaya pada era tahun 90-an. Dua kali berturut-turut pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaki menggondol gelar. Benua Eropa menjadi saksi kedigjayaan Ricky/Rexy. Tahun 1993 saat Inggris sebagai penyelenggara memunculkan Ricky/Rexy tampil pada podium tertinggi. Dua tahun berikutnya yakni di tahun 1995 saat hadir di Swiss, Ricky/Rexy pun membabat seluruh jago ganda putra dunia. Gelar kedua bagi mereka dari kejuaraan dunia bisa direbut.
Kembali Indonesia berjaya melalui pasangan Sigit Budiarto/Candra Wijaya yang sukses menjadi penerus tongkat estafet kedigjayaan ganda putra. Tahun 1997 Sigit/Candra membuat publik Skotlandia berdecak kagum. Usai tahun 1999 gagal merengkuh gelar, pasangan Halim Haryanti/Tony Gunawan kembali membuat Indonesia bangga. Tepat pada tahun 2001 mereka menjadi yang terbaik.
Indonesia sempat mengalami paceklik gelar juara. Merah putih nihil pada tiga kali penyelenggaraan kejuaraan yang sejak tahun 2005 diselenggarakan tiap tahun. Tahun 2007, muncul nama Hendra Setiawan yang menjadi ikon bulutangkis ganda putra Indonesia. Bersama Markis Kido, gelar pertama bagi Hendra Setiawan direbut pada tahun 2007. Hendra moncer bersama pebulutangkis asal PB Djarum Mohammad Ahsan. Tiga kali Hendra/Ahsan mencuri gelar juara. Pertama kali Ahsan/Hendra meraih gelar saat perhelatan di China. Tahun 2013 Hendra/Ahsan ahsan menjadi juara dengan mengalahkan andalan Denmark, Marhias Boe/Carsten Mogensen dengan 21-13, 23-21. Sebelumnya di babak semifinal, Hendra/Ahsan menaklukkan legenda China, Cai Yun/Fu Haifeng dengan 21-19, 21-17. Gelar kedua Hendra/Ahsan diraih pada tahun 2015. Publik Jakarta menjadi saksi kehebatan Hendra/Ahsan yang menang dari wakil China, Liu Xiaolong/Qiu Zihan dengan skor 21-17, 21-14 pada babak puncak. Terakhir Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada tahun 2019. Kala itu Hendra/Ahsan menang 25-23, 9-21, 21-15 atas wakil Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Usaha Hendra/Ahsan untuk meraih gelar keempat kandas pada tahun 2022 lalu. Pada babak final, mereka dikalahkan ganda asal Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik dalam straight game 21-19, 21-14.
Tahun 2023 kejuaraan dunia bakal digelar di Copenhagen, Denmark. Indonesia menurunkan empat pasang ganda putra. Ada unggulan pertama Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto lalu Hendra/Ahsan yang duduk sebagai unggulan kedelapan, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin yang mendapat unggulan kesepuluh serta Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri yang ada di unggulan ketiga belas. Berharap satu gelar juara akan datang dari salah satu di antara empat pasang andalan Indonesia. Siapakah? (AR)
