
Indonesia harus menahan diri untuk bisa membawa pulang piala Thomas. Penantian panjang selama 14 tahun untuk bisa memboyong lambang beregu putra, masih harus terus bertambah. Dalam laga final yang di langsungkan hari ini (22/5), Indonesia dipaksa mengakui keunggulan tim Scandinavia, Denmark. Indonesia yang menurunkan Ihsan Maulasa Mustofa gagal menjadi penentu kemenangan seperti halnya yang di lakukan pada Sea Games 2015. Ihsan di tekuk tunggal ketiga Denmark Hans Kristian Vittinghus.
Sadar akan kekuatan lawan yang memiliki tinggi badan yang menjulang, Ihsan terus menurunkan bola. Ia juga sabar meladeni permainan lawan sambil mengajak pemain nomor tiga Denmark bermain Rally. Dengan pola seperti ini Ihsan bisa selalu menempel perolehan angka. Sayangnya mendekati game pertama, Ihsan mulai terpancing untuk mengangkat bola hingga akhirnya lawan dengan leluasa melancarkan smash keras yang menjadi senjata andalannya. Game pertama pun menjadi milik pemain Denmark dengan 21-15.
Di awal game kedua, lawan yang sudah semakin paham dengan pola yang di jalankan Ihsan. Pemain Denmark lebih banyak menunggu pukulan Ihsan di depan jaring dan juga berani mengajak Ihsan duel di depat net. Berulang kali Ihsan terpaksa mengangkat bola dan lawanpun bisa menghunjam smashnya yang tajam dan keras. Tekanan lawan membuat rasa percaya diri Ihsan semakin turun. Interval game kedua Ihsan tertinggal 4-11. Ihsan semakin tak mampu mengejar keunggulan lawan sampai akhirnya pemain Denmark menang dengan 21-7.
Dengan hasil ini, untuk pertama kalinya Denmark merebut Piala Thomas dan untuk pertama kalinya juga Indonesia kalah dari Denmark. Namun apa yang telah di perlihatkan oleh tim Piala Thomas Indonesia harus diberi apresiasi. Dengan gagah berani, Indonesia turun dengan sebagian besar pemain muda.
