
Muhamad Derajat Maulana ingat betul, di usia enam tahun ia "sah" menjadi manusia kiri dari lahir alias kidal. Setahun kemudian, atlet belia asal Cirebon ini mulai menekuni bulutangkis dan mengandalkan tangan kirinya untuk mengayunkan raket dan belajar mengarahkan pukulan. Menurutnya, ada keuntungan sebagai pebulutangkis kidal saat berhadapan dengan lawan yang dominan dengan tangan kanan.
"Kiri itu, enaknya, bisa tipu-tipu lawan!" tuturnya kepada pbdjarum.org, seraya tertawa lepas, ditemui di sela-sela Sirkuit Nasional B Sumatera Utara 2022 di GOR PBSI Sumut, Medan, Kamis (30/6) petang.
Derajat dan rekan satu klubny, Alif M Akbar, turun di kategori Tunggal Anak-anak Putra. Keduanya adalah pemain kidal.
Setelah mendapatkan bye pada babak pertama, langkah Derajat terbilang mulus di kejuaraan nasional ini. Diunggulkan di tempat ketiga, ia berhasil menuntaskan setiap laga di bawah 30 menit dan dengan dua gim langsung.
Di babak perempat final, Jumat (1/7) pagi, Derajat membutuhkan waktu 20 menit untuk mengunci kemenangan atas Faldanu Arlyanto dengan skor 21-17, 21-10. Ia melaju ke babak empat besar yang juga digelar pada hari yang sama.
Secara umum, menurut Derajat, ia kerap menjumpai lawan yang kesulitan membaca gestur pemain kidal atau handedness. "Kadang-kadang, lawan nggak bisa nebak arah pukulan saya," tuturnya.
