
Langkah para pebulu tangkis Indonesia pada BAOJI China Masters 2026 berakhir tanpa gelar. Turnamen BWF World Tour Super 100 dengan total hadiah 120.000 dolar AS yang berlangsung pada 12-17 Mei di Baoji, China, menghasilkan satu semifinal, satu perempat final, dan beberapa penampilan yang masih belum konsisten dari wakil Merah Putih.
Pasangan ganda campuran Bimo Prasetyo/Arlya Nabila T Mungaran menjadi wakil Indonesia dengan pencapaian terbaik setelah menembus babak semifinal. Hasil tersebut sekaligus menjadi penampilan paling menonjol dari skuad Indonesia di tengah persaingan ketat yang didominasi tuan rumah China.
Di sektor tunggal putri, Mutiara Ayu Puspitasari berhasil melaju hingga perempat final. Hasil ini menunjukkan perkembangan positif pemain muda tersebut yang semakin mampu bersaing di level BWF World Tour. Sementara Ester Nurumi Tri Wardoyo harus terhenti di babak 32 besar.
Adapun di sektor tunggal putra, hasil yang diraih belum memuaskan. Richie Duta Richardo dan Chico Aura Dwi Wardoyo sama-sama kandas di babak 32 besar, sedangkan Christian Adinata sudah tersingkir sejak babak 64 besar. Hanya Kho Hendrikho Wibowo yang mampu melangkah hingga 16 besar sebelum akhirnya terhenti.
Persaingan di sektor ganda putra juga belum menghasilkan prestasi maksimal. Dexter Farrell/Wahyu Agung Prasetyo menjadi pasangan terbaik dengan menembus babak 16 besar. Sementara Anselmus Breagit Fredy Parsetya/Pulung Ramadhan dan Daniel Edgar Marvino/Taufik Aderya terhenti di 32 besar, Adrian Pratama/M. Nawaf Khoiriyansyah tersingkir di 64 besar, sedangkan Patra Harapan Rindorindo/Yeremia Erich Yotje Yacob Rambitan harus mengakhiri langkah sejak babak kualifikasi awal.
Pada nomor ganda campuran lainnya, pasangan M. Nawaf Khoiriyansyah/Nahya Muhfyifa juga hanya mampu mencapai babak 16 besar. Secara keseluruhan, hasil di Baoji menunjukkan bahwa para pemain pelapis Indonesia masih membutuhkan peningkatan konsistensi untuk dapat bersaing dan meraih gelar di level BWF World Tour.
Kegagalan membawa pulang gelar dari BAOJI China Masters 2026 menjadi bahan evaluasi bagi tim Indonesia. Meski demikian, pencapaian semifinal Bimo/Arlya memberikan sinyal positif bahwa regenerasi tetap berjalan dan sejumlah pemain muda memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh pada turnamen-turnamen berikutnya.
