Mungkin tak banyak anak-anak dibawah usia 5 tahun sudah mempunyai tekad yang kuat untuk mengejar mimpinya. Namun tidak untuk Elvincent Keith Oceans, atau yang akrab disapa Vincent. Ia datang ke GOR Satria Purwokerto pada hari ini, Minggu (8/9) untuk mengikuti ajang Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019.
Langkah yang diambil oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation untuk menghentikan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis pada tahun 2020, terkait dengan tuduhan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menilai adanya eksploitasi anak, mendapat komentar dari Kabid Binpres PP PBSI Susy Susanti. Peraih medali emas tungal putri Olimpiade 1992 itu menyayangkan hal ini bisa terjadi.
Banyak yang menyayangkan akan dihentikannya Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis pada tahun 2020, termasuk Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Indonesia (PP PBSI). Menurut Sekertaris Jenderal (Sekjen) PP PBSI, Achmad Budiharto hal ini bisa dibilang tragis.
Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 di GOR Satria Purwokerto, Jawa Tengah, secara resmi dibuka pagi tadi, Minggu (8/9). Rangkaian audisi umum yang kedua di tahun ini pun disambut antusias. Sebanyak 904 atlet diyatakan siap tampil untuk mendapatkan Super Tiket menuju laga final yang akan berlangsung di Kudus, November mendatang.
Menjadi semifinalis, adalah prestasi terbaik yang bisa ditorehkan oleh para pebulutangkis Indonesia yang berjuang di kejuaraan Chinese Taipei Open 2019. Hari ini (7/9) seluruh pemain Indonesia yang berlaga pada babak semifinal, belum bisa melanjutkan pertandingannya ke babak final.
Sejak tahun 2006, Bakti Olahraga Djarum Foundation tak pernah berhenti menjaring calon bintang bulu tangkis masa depan, lewat Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis. Namun, mulai tahun 2020 mendatang, pencarian bakat atlet muda bertalenta di berbagai penjuru negeri, resmi ditiadakan, dan tahun 2019 ini menjadi terakhir kalinya.
