Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum 2016] Bulutangkis di Papua, Antara Talenta dan Fasilitas
23 April 2016
[Audisi Umum 2016] Bulutangkis di Papua, Antara Talenta dan Fasilitas
 
 

Amirullah adalah pelatih satu-satunya di PB Asmat. Sebuah klub bulutangkis yang didirkannya di Kabupaten Asmat, Papua ini baru berusia empat tahun. Meski terbilang klubnya yang masih muda, Amirullah saat ini sudah memiliki 50 anak didik.

“Saat ini ada 50 anak yang berlatih di PB Asmat. Kami berlatih setiap hari sepulang mereka sekolah dan sepulang saya kerja. Biasanya latihan dimulai pukul empat sampai tujuh malam,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai honorer di Dinas Perhubungan ini.

Keterbatasan fasilitas pun menjadi salah satu kendala terbesar bagi Amirullah dalam mengembangkan bulutangkis di Papua. Ia mengakui bahwa dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) Asmat sangat besar, tetapi fasilitas yang ada tetap masih belum memadai.

“Kami mendapat dukungan penuh dari Pemda, seperti shuttlecock dan kebutuhan lain hanya saja fasilitas tetap terbatas. Kadang mereka pun berlatih masih harus saling meminjam raket, kami pun tidak memiliki tempat untuk melatih fisik, karena keadaan alam di sana yang tidak memungkinkan,” ceritanya.

Kehadiran mereka di arena Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 di Surabaya ini pun bisa terwujud berkat dukungan penuh Pemda Asmat. Bupati Asmat, Elisa Kambu yang juga ketua Pengurus Kabupaten PBSI Asmat memberikan bantuan dana untuk keberangkatan ketiga atletnya ke Audisi Umum kali ini.

“Pemda memang memberikan dukungan penuh terhadap olahraga, dan untuk bulutangkis, Pemda pun mendukung kami untuk hadir di Audisi Umum kali ini, karena bupati saat ini juga ketua Pengkab PBSI Asmat,”

Amirullah pun bercerita bahwa talenta di Papua tak kalah dengan atlet-atlet muda yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia. “Kalau talenta dan keinginan mereka untuk menjadi atlet itu sangat besar, tetapi memang kami kesulitan untuk mendapat fasilitas latihan. Turnamen pun terbatas, jika memang di Merauke, kami bisa kirim atlet lebih banyak, karena bisa pakai kapal, sementara kalau di kota lain seperti ke Jayapura, kami tidak bisa bawa atlet banyak karena memang kendala transportasi yang sulit dan terbatas,” paparnya.

Dengan hadirnya ketiga atlet muda yang ia dampingi, Amirullah berharap bisa menunjukkan bahwa Papua, khususnya Asmat juga memiliki potensi atlet bulutangkis.  (RI)