Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum 2016] Gea yang Tak Pernah Menangis
25 April 2016
[Audisi Umum 2016] Gea yang Tak Pernah Menangis
 
 

0182 menjadi nomor terakhir yang dipanggil oleh tim pemandu bakat untuk menjadi kandidat penerima super tiket. Tim pemandu bakat mengumumkan bahwa mereka menyediakan delapan super tiket, dan Salgea Saptania Fransisca adalah kandidat ke sembilan. Ia harus bertarung bersama peserta lain untuk memperbutkan super tiket melalui games drop shot.

Dua kandidat penerima super tiket ini harus melakukan pukulan dropshot dan memasukan shuttlecock ke kotak yang telah di sediakan. Saat lawannya berhasil memasukkan empat shuttlecock, Salgea atau yang akrab disapa Gea, justru terlihat tegang dan gagal.

Namun ternyata, tim pemandu bakat punya super tiket ke sembilan yang diselipkan ke dalam tasnya. Tak ayal hal ini pun membuat suasana menjadi haru, sang ayah terlihat berkaca-kaca, namun Gea terlihat menahan tangisnya.

“Gea memang tidak pernah menangis, meskipun kalah dia biasanya tidak menangis justru bertanya, aku kalahnya kenapa ya,” cerita sang ibu, Siti Marfu’ah.

Gea lahir 18 September 2006, di usia yang belum genap 10 tahun ini, Gea diakui sang ibu cukup ambisius untuk bisa meraih cita-citanya. “Dia tiap malam itu sebleum tidur biasanya suka bilang, aku pasti bisa, aku pasti bisa masuk PB Djarum. Dia sudah dari umur lima tahun pegang raket, awalnya memang ikut-ikut kakaknya sama ayahnya, tetapi lama-lama dia juga ingin bulutangkis juga,” tambahnya.

Kali ini menjadi kali pertama Gea ikut Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Ia datang dari Sidoarjo ditemani juga oleh sang ayah, Joko Soewoyo. Jika sang kakak, Bogileo Dhio Fransisco harus gagal di pertandingan kedua, Gea pun mengalami hal yang sama, tetapi Gea menjadi pilihan tim pemandu bakat untuk turut bersaing di grand final Audisi Umum yang akan digelar 2-4 September mendatang.

“Saya sangat tidak menyangka Gea bisa dapat super tiket. Setelah ini saya akan menyarankan Gea untuk lebih melatih kaki dan fisiknya. Karena dari kecil Gea memang termasuk kuat, dia bisa lari 10km saat usianya masih tujuh tahun,” cerita sang ibu.

Gea mengawali latihan bulutangkisnya di PB Mutiara, Sidoarjo. Dibawah asuhan Martin, Gea terlihat mulai mengasah bakatnya. “Pak Martin itu betul-betul telaten melatih Gea, tetapi sekarang sudah tidak di sana, Pak Martin sakit. Gea pun sempat dititip di PB Alfat, tetapi karena perjalannya terlalu jauh, kurang lebih dua jam untuk pulang dan pergi, saya pun lama kelamaan capek, dan akhirnya kini berlatih di PB Toya, yang lebih dekat dari rumah,” sambungnya.

Siti mengaku sangat mendukung sang anak untuk bisa berkiprah di bulutangkis. “Di keluarga kami belum ada yang menjadi atlet, saya sendiri tidak terlalu bisa hanya senang saja. Awalnya kan kakaknya Gea juga dikenalkannya sama bola, tetapi pas ikut ayahnya bulutangkis, jadi ingin bulutangkis. Gea pun begitu, karena ikut dan dikenalkan bulutangkis, Gea jadi ingin seperti Susy Susanti,”

Gea adalah putri kedua dari tiga bersaudara. Meraih super tiket tentu membuka jalan bagi Gea untuk bisa bergabung bersama PB Djarum. Selamat berlatih Gea, sampai jumpa di Kudus pada bulan September! (RI)