Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum PB Djarum 2026] Orang Tua Berkorban demi Mimpi Nur Hidayah di PB Djarum
07 Agustus 2026
[Audisi Umum PB Djarum 2026] Orang Tua Berkorban demi Mimpi Nur Hidayah di PB Djarum
 
 

Di balik langkah gemilang Nur Hidayah yang berhasil menembus babak final Audisi Umum PB Djarum 2026 Regional Makassar, tersimpan perjuangan panjang yang tak hanya dilakukan sang atlet muda, tetapi juga pengorbanan kedua orang tuanya yang rela mengorbankan waktu, tenaga, hingga menyisihkan sebagian penghasilan demi mewujudkan mimpi putrinya menjadi pebulutangkis nasional.

Peserta asal PB Yanti Jaya Makassar dengan nomor punggung 0101 itu memastikan tiket ke final kategori U-12 Putri setelah menaklukkan Ainiyah Farah Dai dari Pelatkot Gorontalo pada babak semifinal di GOR Dafest, Jumat (7/8), dengan skor 21-15, 17-21, 21-12.

Bagi Nur, kemenangan tersebut bukan sekadar langkah menuju babak berikutnya. Itu adalah bentuk penghargaan atas perjuangan keluarganya yang selama bertahun-tahun terus mendukung cita-citanya.

"Latihan sudah sejak usia 6 tahun. Dulu suka main badminton karena lihat kakak. Tetapi kakak saya tidak sampai ke level nasional, dan saya ingin meneruskan perjuangan kakak. Saya pengen masuk PB Djarum, pengen jadi pebulutangkis hebat karena mau membanggakan orang tua," ujar Nur.

Audisi tahun ini merupakan kesempatan kedua bagi Nur. Sebelumnya, ia pernah mengikuti Audisi Umum PB Djarum 2022 di Kudus. Saat itu, Nur yang baru sekitar dua tahun menekuni bulutangkis merasa belum siap bersaing di level tersebut.

Alih-alih terus mencoba setiap tahun, Nur bersama keluarganya memilih menunda keikutsertaan selama empat tahun. Keputusan itu diambil agar ia memiliki waktu untuk mematangkan kemampuan dan memperbaiki berbagai kekurangan.

"Saya sengaja tidak ikut selama empat tahun ini karena selain memang jauh di Kudus, saya juga ingin lebih matang lagi permainannya. Saya fokus memperbaiki kekurangan terlebih dahulu. Sekarang saya sudah percaya diri menghadapi lawan siapa pun. Semoga saya bisa juara di sini dan melaju ke tahap Karantina di Kudus," katanya.

Di balik keteguhan Nur, ada sosok ayah dan ibu yang menjadi penyemangat utama. Sang ayah, Harwin, mengaku sejak awal dirinya dan sang istri berkomitmen memberikan dukungan penuh ketika melihat kesungguhan putrinya menekuni bulutangkis.

"Sebagai orang tua, melihat keinginan anak yang ingin menjadi atlet, kami memberikan dukungan sepenuhnya. Baik dari segi tenaga maupun materi. Dari segi tenaga itu sudah menjadi kewajiban kami untuk mengantar latihan, mengantar pertandingan, dan selalu mendampingi dia," ujar Harwin.

Namun, dukungan tersebut bukan tanpa pengorbanan. Menjadi orang tua atlet usia dini berarti harus siap mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari latihan rutin, perlengkapan, hingga biaya perjalanan mengikuti berbagai turnamen.

"Dari segi materi memang tidak mudah karena harus mengeluarkan biaya untuk akomodasi dan kebutuhan lainnya. Saya dan istri sudah sepakat menyisihkan sebagian gaji kami khusus untuk biaya latihan dan pertandingan. Kami selalu berusaha bagaimana caranya supaya kebutuhan itu bisa tercukupi," tuturnya.

Menurut Harwin, tantangan terbesar justru datang dari minimnya kompetisi di Sulawesi Selatan. Agar kemampuan Nur terus berkembang, keluarga harus membawa putrinya bertanding ke berbagai daerah dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.

"Turnamen di Makassar atau Sulawesi Selatan tidak terlalu banyak, dan persaingannya tentu berbeda dengan di Pulau Jawa. Jadi mau tidak mau kami harus berkorban, baik waktu, tenaga, maupun biaya, supaya dia mendapatkan pengalaman bertanding yang lebih baik," ungkapnya.

Kini, seluruh pengorbanan itu mulai menunjukkan hasil. Nur hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk memastikan langkah menuju tahap Karantina di Kudus, fase penentuan dalam Audisi Umum PB Djarum 2026.