Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > Tidak Pernah Menyangka Bakal Menjadi Wartawan Olah Raga
26 Juli 2020
Tidak Pernah Menyangka Bakal Menjadi Wartawan Olah Raga
 
 

Siapapun tidak pernah tahu nasib kita di masa depan. Manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Pepatah tua ini layak disematkan kepada Nafielah, wartawati PBSI. Sebenarnya rajutan masa depan sudah ia rangkai dengan begitu baik. Hasrat mewujudkan cita-citanya sebagai wartawan sudah ia canangkan. Ia memilih melanjutkan jenjang pendidikan jurnalistik di salah satu perguruan tinggi di Bandung sebagai ikhtiarnya menjadi wartawan.

“Ga kepikiran sih untuk jadi jurnalistik bidang olahraga. Karena passionnya dulu ke isu-isu politik, sosial, crime,” tuturnya.

Nasib juga yang akhirnya mengubah haluan idealismenya menjadi wartawan olahraga. Padahal sebelum lulus kuliah ia sempat bekerja di berbagai media cetak termasuk media elektronik. Dan tidak ada satu beritapun yang bersentuhan dengan dunia olahraga. Dengan atlet bulutangkis pun, ia hanya tahu dengan atlet ternama seperti Taufik Hidayat, Ricky Soebagja, Rexy Mainaky atau yang paling anyar Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir.

Cerita karirnya mulai berubah saat ia membaca sosial media tentang juara All England Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Harapannya ke bandara Soekarno Hatta dapat melakukan tanya jawab dengan sang juara. Tetapi harapannya ternyata salah.

“Kita kira ada salah satu forum, trus ada atletnya kaya kita tanya jawab seperti meet and greet kaya gitu lah. Eh ternyata penyambutan di bandara. Jadilah kita ikut penyambutan di bandara. Jadi kita salah persepsi waktu itu,” ujarnya.

Rupanya hikmahnya justru ia dapatkan sesudahnya. Ia berkenalan dengan koordinator pengisi website PB Djarum dan langsung mendapat tawaran untuk mengikuti seleksi penerimaan pengisi website.

“Seneng juga waktu itu ada kesempatan bisa kerja di dunia yang kita juga suka,” sambungnya.

Dari situlah ia mulai menggeluti dunia olahraga. Lulus skripsi, iapun langsung mendapat tugas meliput turnamen Sirkuit Nasional (Sirnas) Makasar. Disitulah matanya mulai terbelalak. Ia baru menyadari jika dunia bulu tangkis ternyata sedemikian luasnya. Ia sempat terkejut jika ternyata banyak anak-anak kecil yang juga ikut bertanding di kejuaraan tersebut.

Aku baru tau turnamen bulu tangkis sebanyak itu dan dimulai dari anak-anak kecil. Dari situ aku mulai terbuka, oh ternyata atlet itu ada banyak. Dalam setahun dan anak sekecil itu mereka udah ga di rumah,” sambungnya.

Hikmah inilah yang ia dapatkan akhirnya. Ia yang merasa dangkal dengan pengetahuan bulu tangkis akhirnya menjadi semakin mengerti dengan seluk beluk dunia olah raga yang menggunakan raket sebagai pemukul ini.

Kurang lebih setahun Nafielah bersama dengan PB Djarum meliput kejuaraan-kejuaraan dalam negeri. Sama sekali tidak pernah terpikir, jika nantinya ia berkesempatan melanglang buana meliput berbagai kejuaraan dunia, termasuk kejuaraan tertua All England. (AR)