Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > Maafkan Aku, Marin
26 Mei 2020
Maafkan Aku, Marin
 
 

Tiga kata diatas yang selalu ingin disampaikan secara langsung oleh Johari Latif, seorang wasit Internasional yang dimiliki oleh Indonesia. Sebenarnya niat ini sudah ingin diutarakan usai Carolina Marin mengalami cedera pada babak final kejuaraan Indonesia Masters 2019 lalu. Tapi ada daya, kesempatan untuk menyampaikan langsung belum ada. Sampai saat ini ia masih tetap berharap jika suatu hari nanti ia dapat bertemu dan berbicara secara khusus dengan Marin. Pasalnya ia masih berasa bersalah atas apa yang terjadi pada babak final masa itu.

Apa gerangan yang terjadi hingga ia begitu sangat ingin bertemu secara langsung dengan Marin ? Rupanya ada cerita unik dibalik kegagalan Marin menjadi juara. Ceritanya bermula dari cederanya seorang wasit badan bulutangkis dunia (BWF) bernama Johari Latif sebelum pertandingan babak final dimulai. Berawal saat ia sedang menggosok gigi.

“Waktu gosok gigi di wastafel, kan sedikit membungkuk, trus tau-tau batuk kencang. Entah kenapa guncangan batuknya menarik otot pinggang,” ujarnya. Lalu setelah itu ia tidak bisa berdiri dengan tegak. Ia hanya bisa berjalan sambil membungkukan badan. “Sakitnya  luar biasa,” sambungnya.

Ia pun panik, karena tidak mungkin ia tampil menjadi wasit dengan jalan membungkuk. Segera ia menghubungi Dr Carmen Yahya. Dokter olahraga tersebut menyarankan untuk bertemu dokter yang bertugas di ruangan medis untuk dilakukan fisioterapi.

“Disana diterapi, dipasang macam-macam alat kurang lebih 40 menit,” tuturnya.

Sempat merasa lebih baik, iapun siap melaksanakan tugasnya. Namun rupanya cedera yang membekapnya kembali kambuh justru disaat detik-detik terakhir menjelang pertandingan akan dimulai dimana ia sudah siap dengan segala atributnya sebagai wasit.

Iapun pasrah dengan kondisinya saat itu. Satu yang terpikir olehnya adalah  berdoa.

“Ya Allah, saya sedang sakit pinggang. Gimana caranya pertandingan ini cepat selesai,” ujarnya.

Doa ini ia panjatkan karena kondisi pinggangnya yang teramat sakit dan agar pertandingan tidak berjalan rubber game atau berharap tidak memakan waktu yang panjang. Walhasil, iapun berjalan tegak memasuki lapangan final Istora Senayan sambil menahan rasa sakit pada pinggangnya.

Rupanya doa yang dipanjatkan terkabul. Pertandingan berjalan dengan singkat dan hanya memakan waktu sepuluh menit saja. Sayangnya pertandingan final tunggal putri antara Carolina Marin dengan Saina Nehwal berakhir bukan karena salah satu pemain memenangkan pertandingan, melainkan Carolin Marin mengalami cedera serius yang mengharuskannya mundur dan memberikan kemenangan untuk Saina Nehwal.

Perasaan bersalah mulai ia rasakan. Rasa berdosa kepada Marin semakin lama semakin besar menyelimuti dirinya. Ia merasa bersalah kepada Marin atas doa yang ia panjatkan.

Saya berasa berdosa kepada Carolina Marin,” ungkapnya. Ungkapan rasa bersalahnya ia curahkan beberapa minggu dalam status akun istagram pribadi miliknya.

Untungnya, ia dapat sedikit bernafas dengan lega. Saat kejuaraan Blibli Indonesia Open 2019 ia bertemu dengan kru dari Spanyol yang sedang membuat film dokumenter tentang Marin dengan salah satu bagian film memuat tentang cedera yang dialami Marin. Saat perekaman film dokumenter, iapun tidak lupa menyelipkan permoonan maaf khusus untuk Marin. (AR)