Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > Suka Duka di Negeri Rantau
03 Juni 2020
Suka Duka di Negeri Rantau
 
 

Sebagai perantau pastilah pernah mengalami yang namanya suka duka di tanah rantau. Begitu pun juga yang dialami oleh pebulu tangkis tunggal putri alumni PB Djarum Ghaida Nurul Ghaniyu. Putri dari Dadang Gunawan itu akhirnya menceritakan suka duka selama di negeri perantauannya di Montreal Kanada.

Kepada tim pbdjarum.org, Ghaida mengatakan bahwa sukanya menjadi perantau itu adalah pengalaman baru dan banyak pelajaran hidup yang bisa diambil terutama menjadi professional atlet yang harus berjuang sendiri dan banyak juga pengalaman postif yang dapat diambil.

"Dulukan di asrama ya semuanya ada. Di sini juga, Alhamdulillah ada sponsor tapi banyak hal yang dilakukan mandiri dan itu juga sebenarnya bagus juga buat diri sendiri karena menambah skill kita juga diluar bulu tangkis. Contohnya dulu nggak bisa masak atau nggak tau masak, sekarang karena keadaan jadi bisa masak dan lumayanlah enak juga hasilnya walau masih belajar," jelas mantan lulusan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2011.

Gadis kelahiran Bandung 1998 juga menambahkan, menjadi suatu kebanggaan sendiri dan bersyukur bertemu dengan orang baru, keluarga baru dan komunitas-komunitas orang-orang Indonesia yang tinggal di negeri ini.

"Memang suatu kebanggaan dan bersyukur bertemu dengan mereka, apalagi orang Indonesia yang sudah belasan tahun tinggal di Kanada ini. Tetapi memang benar secantik-cantiknya negeri orang, lebih nyaman negeri sendiri terutama makanan Indonesia itu loh, nggak pernah ada yang kalahin," ujarnya mojang Bandung.

Ghaida juga mengatakan di Montreal Kanada ini banyak hal-hal positif yang dapat diambil. Contohnya toleransi warga Montreal sangat tinggi dan saling menghargai meski perbedaan ras, agama dan kultur.

"Ya toleransi mereka ini sangat tinggi dan sangat menghargai perbedaan satu sama lain karena Montreal termasuk multicultural city. Banyak makanan dan supermarket yang halal juga disini jadi memudahkan saya juga sebagai muslim untuk belanja dan makanan," lanjutnya lagi.

"Nah dukanya itu, jauh dari keluarga dan kangen makanan Indonesia. Saya juga belum sempat pulang selama satu tahun ini dan ditambah dengan adannya wabah Covid 19," tambah Ghaida.

Meski tidak lagi menjadi atlet PB Djarum, Ghaida tetap bangga pernah menjadi salah satu atlet klub terbaik di Indonesia. Ghaida pun juga mengucapakan rasa syukur dan terima kasih kepada klub PB Djarum yang membesarkan namanya.

"Sangat bangga pernah menjadi bagian dari klub PB Djarum karena selama ini sudah membantu hingga sampai titik ini. Sampai bisa keluar negeri kemana-mana itu juga berkat PB Djarum. Sukses selalu untuk PB Djarum dan junior-junior saya disana," pungkas Ghaida. (ds)