Tahun 2016 telah berlalu, tahun 2017 telah datang. Meskipun ada beberapa kegagalan, namun secara umum prestasi bulutangkis tahun 2016, bisa dikatakan mentereng. Indonesia kembali berhasil meraih medali emas Olimpiade Rio setelah gagal total di Olimpiade London tahun 2012. Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil mengembalikan tradisi emas Olimpiade. Indonesia juga mengantarkan Praveen Jordan/Debby Susanto untuk diajang bergengsi lainnya All England.
Namun tahun 2016 juga, Indonesia tidak berhasil merebut kembali ajang bergengsi beregu Piala Thomas dan Uber. Disamping itu, tidak satupun pemain Indonesia yang meraih gelar di turnamen tertinggi tanah air, Indonesia Open 2016.
Memasuki tahun 2017, Indonesia akan kembali dihadapkan dengan berbagai turnamen bergengsi yang diharapkan menjadi lebih baik dari tahun lalu. Pertaruhan prestasi 2017 bukan saja terhadap prestasi tahun 2016, tetapi pertaruhan buat pengurus PBSI yang baru. Tongkat bidang pembinaan prestasi yang kini dibawah komando Susy Susanti, yang menerima tongkat estafet dari Rexy Mainaky, tentulah menjadi sorotan utama. Susy menjadi harapan baru untuk meneruskan kejayaan bulutangkis Indonesia
Beberapa titik-titik penting yang diharapkan, dimulai dari kejuaraan bulutangkis tertua dunia All England. Ajang ini akan berlangsung tanggal 7-12 Maret 2017 di kota Birmingham, Inggris. Lalu kejuaraan bulutangkis beregu Campuran Piala Sudirman, 21-28 Mei 2017 di Gold Coast, Australia. Piala yang mengambil nama tokoh bulutangkis Indonesia ini, belum pernah kembali ke tanah air setelah Indonesia meraihnya di penyelenggaraan pertama kali, tahun 1989.
Indonesia Open tanggal 13-18 Juni 2017, adalah pertaruhan gengsi berikutnya. Sebagai negara raksasa bulutangkis, patut menutup muka, bila tidak meraih satu gelar juara pun. Apalagi turnamen ini merupakan turnamen dengan hadiah terbesar di dunia sebesar US$ 1000.000 yang menyamai ajang Superseries Final.
Pertarungan memperebutkan gelar juara dunia, akan terjadi di bulan Agustus. Hadiah ulang tahun kemerdekaan selalu diharapkan dari ajang yang tahun ini berlangsung di Glasgow, Skotlandia, 21-27 Agustus 2017. Dua tahun lalu, Indonesia meraih gelar juara melalui pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang kini telah berpisah.
Selain perebutan Juara Dunia, akan berlangsung juga perebutan gelar Juara Dunia Junior dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah, tanggal 9-21 Oktober 2017 di Yogyakarta. Untuk nomor perorangan, terakhir Indonesia meraihnya tahun 2012, melalui Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktavianti. Sedangkan di nomor beregu, belum pernah sekalipun diraih Indonesia meskipun memperebutkan Piala Suhandinata yang diambil dari nama tokoh asal Indonesia.
Terakhir, BWF Superseries Final yang hanya diikuti oleh 8 terbaik dari peringkat superseries. Turnamen ini akan berlangsung kembali di Dubai, 13-17 Desember 2017. Demikian titik-titik penting turnamen bulutangkis 2017 dengan tanpa mengabaikan turnamen-turnamen lainnya. Ketangguhan Susy Susanti sebagai pemain sudah teruji dengan sederetan gelar bergengsi yang pernah diraihnya. Tapi ketangguhannya sebagi komandan prestasi bulutangkis Indonesia akan diuji. Susy menjadi harapan baru untuk membawa bulutangkis Indonesia lebih berjaya. (Hendri.K)
