
Kiprah PB Djarum dalam melahirkan atlet-atlet yang berprestasi di level dunia sudah tidak diragukan lagi. Sejak berdiri pada tahun 1969, PB Djarum terus menyumbangkan atlet terbaiknya untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Deretan legenda dan atlet berprestasi seperti Liem Swie King, Alan Budi Kusuma, Tontowi Ahmad hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo, sukses menjadi andalan Indonesia untuk meraih prestasi di bulutangkis.
Namun ternyata, tak hanya fokus dalam melahirkan atlet level dunia, PB Djarum juga fokus dalam menciptakan pelatih-pelatih andal yang siap untuk membina calon juara baru.
Beberapa pelatih jebolan PB Djarum yang kini mencuri perhatian publik diantaranya adalah Muammar Khadafi, pelatih tunggal putra Kevin Cordon asal Guatemala yang sukses menembus semifinal Olimpiade Tokyo 2020. Selain itu ada juga Victo Wibowo yang mendirikan sekolah bulutangkis di Taiwan dan melahirkan juara Olimpiade Tokyo 2020, Lee Yang/Wang Chi Lin.
Kemudian ada juga mantan pemain tunggal putra jebolan PB Djarum, Hendrawan yang kini melatih di Malaysia dan juga pernah mendampingi legenda bulutangkis negeri jiran, Lee Chong Wei di sana.
“Kami bangga karena bisa berkontribusi di puluhan negara, dari Eropa, Amerika Latin, Asia, tapi yang penting di negeri sendiri kita membuahkan prestasi yang membanggakan. Yang di Guatemala saja disambut di sana, Guatemala masuk semifinal tunggal putra, itu suatu hal yang luar biasa. Baguslah, jadi sekolah kita ini di PB Djarum tidak hanya menghasilkan penerima beasiswa yang jago mainnya, tapi juga melatihnya. Saya merasa kita ini seperti Belanda di sepakbola. Mainnya bagus dan melatih di mana-mana. Bangga,” kata Victor R Hartono, President Director Djarum Foundation.
Tak hanya di luar negeri, deretan pelatih yang berkiprah di bulutangkis nasional juga banyak yang lahir dari PB Djarum. Di antaranya Eng Hian dan Chafidz Yusuf, pelatih ganda putri Pelatnas yang mengantarkan Greysia Polii/Apriyani Rahayu merebut medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Selain itu ada juga Richard Mainaky yang kini melatih ganda campuran Pelatnas PBSI.
“Dari program-program kita selama ini di PBSI Jawa Tengah, PBSI Kudus dan PB Djarum sendiri, ada program-program untuk melatih para pelatih. Mulai dari tingkat dasar, sampai ke tingkat menengah. Khususnya pelatih untuk melatih usia dini. Itu kita buka seluas-luasnya. Karena atlet itu, yang jadi dengan yang tidak jadi itu, lebih banyak yang tidak jadinya. Sehingga harus ada lahan-lahan pengabdian lain selain sebagai juara,” kata Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation.
“Jadi nanti ada pelatih, asisten pelatih, sparring, ada juga yang sebagai pengusaha, ada juga sebagai penasehat, consulting, technical adviser. Semuanya kita buka seluas-luasnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Banyak atlet-atlet kita yang merintis karier di berbagai negara, pada awalnya memang perlu referensi dari klub kita, PB Djarum. Bahwa surat dari PB Djarum itu diperlukan, agar orang-orang yang dilatih di berbagai negara itu percaya, bahwa calon pelatihnya itu adalah seorang profesional di bulutangkis, yang sudah punya kiprahnya sepanjang dia masih di Indonesia,” ungkap Yoppy. (NAF)
