
Raut wajah Najwa Al Fatiha terlihat tertunduk lesu dan menangis saat kalah di tahap turnamen kemarin (26/3). Tetapi ia akhirnya bisa menangis bahagia pada Minggu (27/3) sore. Hal ini terjadi setelah ia dipanggil tim pemandu bakat dan berhak atas Super Tiket.
“Tidak menyangka bisa dapat super tiket,” ujar atlet yang lahir di Pekanbaru, 8 Agustus 2006 ini.
Anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Jumari dan Asmawati ini menuturkan bahwa dirinya sudah berlatih bulutangkis kurang lebih dalam satu setengah tahun terakhir. Setiap hari ia berlatih di GOR Angkasa, tempat Audisi Umum digelar kali ini.
“Saya harus kembali berlatih lebih keras untuk grand final di Kudus,” tambahnya.
Najwa yang berlatih setiap hari dan kadang menambah porsi latihan saat akhir pekan ini memang berambisi untuk bisa menjadi pemain dunia. Ia pun mengidolakan Fitriani karena pernah berjumpa sebelumnya.
“Idola kak Fitriani karena sudah pernah berjumpa, tapi prestasi saya ingin bisa seperti Susi Susanty,” pungkasnya.
Najwa dipilih tim pemandu bakat dengan beberapa pertimbangan. “Beberapa pertimbangan kami diantaranya, usia dia lebih muda dibanding peserta lain. Dengan usia segitu, dia bisa mengimbangi lawannya. Fighting spiritnya bagus, dia selalu berusaha. Kita memang ingin karakter atlet yang seperti itu. Dari segi teknik pun dia bagus, kami melihat kaki dia lincah, enteng, pukulannya juga bagus,” ujar Sigit Budiarto, anggota tim pemandu bakat.
Najwa menjadi peraih satu dari tiga Super Tiket tambahan pilihan tim pemandu bakat. Pekanbaru pun pada akhirnya berhasil menjaring 15 peserta untuk berlaga di grand final yang akan digelar bulan September mendatang. (RI)
Foto perjuangan peserta dari arena Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis di Pekanbaru bisa diakses di sini.
