Turnamen Nasional
Home > Berita > TURNAMEN INTERNASIONAL > [WJC 2026] Terhenti di Semifinal, Indonesia Belum Berhasil Bawa Pulang Piala Suhandinata
09 Oktober 2026
[WJC 2026] Terhenti di Semifinal, Indonesia Belum Berhasil Bawa Pulang Piala Suhandinata
 
 

Perjuangan tim Indonesia pada nomor beregu di ajang World Junior Championships (WJC) 2026 harus terhenti di babak semifinal. Menghadapi Malaysia, tim Merah Putih harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 49-55 dan 42-55 di Cairo International Stadium, Kairo, Mesir, Jumat (9/10). Hasil ini memastikan Indonesia meraih medali perunggu pada nomor beregu.

Pada set pertama, Indonesia sebenarnya mengawali pertandingan dengan cukup menjanjikan. Tunggal putra Fardhan Rainanda Joe mampu tampil meyakinkan dan unggul cukup jauh atas wakil Malaysia, Wei Jie Tiew, dengan skor 11-6.

Sayangnya, keunggulan tersebut belum mampu dipertahankan setelah ganda putri Atresia Naufa Candani/Aurelia Syakira Putri gagal mengembangkan permainan. Mereka hanya mampu menambah enam poin saat menghadapi Genevie Lim/Zi Yu Low. Malaysia pun berbalik unggul 22-17.

Indonesia kembali mendapatkan momentum melalui penampilan tunggal putri Jolin Angelia. Ia sukses membalikkan keadaan saat berhadapan dengan Carine Tee dan membawa Indonesia unggul tipis 33-32.

Semangat Jolin berlanjut ke partai keempat. Ganda campuran Moses Andar Simanjuntak/Reya Azzahra Yulianti mampu memberikan perlawanan sengit kepada Ahmad Redzuan/Zi Yu Low. Namun, Indonesia belum berhasil mengamankan keunggulan hingga memasuki partai penentuan.

Pada partai kelima, ganda putra Faizal Pangestu/Anju Siahaan harus menghadapi tekanan saat berhadapan dengan pasangan Malaysia, Damien Ling/Irfan M. Shazmir. Indonesia akhirnya menyerah 49-55 dan tertinggal 0-1.

Memasuki set kedua, tim Merah Putih belum berhasil bangkit. Dari lima wakil yang diturunkan, Jolin menjadi penyumbang poin terbanyak bagi Indonesia dengan 17 poin. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk membawa Indonesia memaksakan set penentuan.

Fardhan lebih dulu kalah dari Wei Jie Tiew dengan skor 7-11. Berikutnya, Atresia yang kali ini berpasangan dengan Halifia Usni Pratiwi harus mengakui keunggulan Genevie Lim/Zi Yu Low dengan skor 11-22.

Jolin kemudian kembali berhadapan dengan Carine Tee, tetapi kali ini ia harus menyerah 28-33. Pada partai keempat, Moses/Reya juga belum mampu membendung permainan Ahmad Redzuan/Zi Yu Low dan kalah 37-44.

Harapan Indonesia untuk memperpanjang pertandingan berada di tangan Faizal/Anju. Namun, pasangan ini belum berhasil mengatasi perlawanan ganda putra Malaysia yang kali ini diperkuat Isyraf Hafizin/Ahmad Redzuan. Indonesia pun harus mengakui keunggulan Malaysia dengan skor akhir 42-55.

Manajer Tim Indonesia, Eskar Denatara, mengungkapkan rasa syukurnya atas perjuangan para pemain yang telah berusaha memberikan kemampuan terbaik. Meski belum berhasil melangkah ke final, ia menilai pencapaian semifinal patut diapresiasi, mengingat Indonesia berangkat ke Kairo dengan status unggulan ke-10.

“Pertama, kami bersyukur bahwa dengan komposisi yang ada, kami berangkat ke Kairo ini sebagai tim beregu unggulan ke-10, tetapi kita mampu mencapai semifinal. Tentu tidak ada satu pun dari kami yang ingin kalah di babak ini. Kami ingin terus melaju, tetapi kalau kami lihat sektor per sektor, ada beberapa sektor yang pada gim pertama, khususnya yang tampil, tidak bisa bermain secara lepas karena tegang yang luar biasa,” papar Eskar.

Ia menambahkan, ketegangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penampilan tim, terutama pada set pertama. Meski tunggal putra mampu membuka pertandingan dengan baik, Indonesia kehilangan banyak poin pada sektor ganda putri.

“Kami lihat, misalnya, dari sektor tunggal putra, di gim pertama sudah cukup oke dan sempat unggul cukup banyak. Tetapi kemudian di ganda putri, memang secara kualitas dan jam terbang kita kalah, tetapi hasil tadi sedikit di luar prediksi. Kita kehilangan cukup banyak poin di ganda putri. Ketegangan ternyata membuat semuanya tidak berjalan sesuai dengan game plan yang sudah disiapkan,” jelas Eskar.

Eskar pun menyampaikan terima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan oleh seluruh badminton lovers. Ia juga meminta maaf karena tim Indonesia belum berhasil membawa pulang gelar juara beregu dan baru mampu mempersembahkan medali perunggu. Meski demikian, perjuangan belum berakhir karena para pemain akan kembali bertanding pada nomor perorangan.

“Pada intinya, kami berterima kasih atas semua doa, dukungan, dan harapan dari seluruh badminton lovers. Mohon maaf, kami baru bisa memberikan medali perunggu di nomor beregu. Namun, kami akan kembali menyusun kesiapan anak-anak untuk bertarung dan berjuang lagi di nomor perorangan,” tutur Eskar.

Menghadapi nomor perorangan, tim Indonesia berharap para pemain mampu tampil lebih maksimal dan memperjuangkan peluang meraih medali di masing-masing sektor. Tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran menjadi sektor yang diharapkan dapat bersaing memperebutkan medali. Sementara itu, penampilan Jolin dan Mayla yang dinilai menunjukkan perkembangan positif juga menjadi modal bagi sektor tunggal putri.

“Seperti yang kami sampaikan sebelum berangkat, kami berharap tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran mampu berjuang untuk mendapatkan medali di sini. Namun, kami juga berharap tunggal putri, dengan progres yang kita lihat dari penampilan Jolin dan Mayla yang sangat impresif, bisa tampil maksimal di nomor perorangan, bermain lebih lepas lagi, dan membawa pulang medali. Untuk ganda putri, kami akan fokus pada kesiapan mental serta taktik dan strategi. Kita berharap mereka juga bisa membuat kejutan di nomor ganda putri,” ungkap Eskar.

Khusus di sektor tunggal putra, Indonesia menaruh harapan besar kepada Fardhan Rainanda Joe, Radit, Fathurachman, dan Yudha. Pengalaman Joe yang sebelumnya meraih medali perak pada Asia Junior Championships (AJC) menjadi salah satu modal untuk kembali bersaing di level dunia.

“Kami berharap bisa meraih medali di tunggal putra. Joe sudah meraih medali perak di AJC, artinya kita berharap setidaknya dia bisa mempertahankan prestasi tersebut. Syukur-syukur bisa meningkatkan prestasinya. Tentu persaingannya memang lebih berat di sini. Namun, tunggal putra punya modal. Joe, Radit, Fathurachman, dan Yudha, saya kira dengan kualitas yang mereka miliki secara individu, punya modal untuk meraih prestasi di sini,” jelas Eskar.

Selain mempersiapkan strategi dan menjaga kondisi pemain, tim Indonesia juga perlu beradaptasi dengan format pertandingan pada nomor perorangan. Berbeda dengan nomor beregu yang menggunakan format 11 poin, nomor perorangan akan dimainkan dengan format baru 15 poin.

“Memang berbeda dengan nomor beregu yang menggunakan format gim 11 poin. Di nomor perorangan, kita kembali bermain dengan format baru, yaitu 15 poin. Saya kira peluang anak-anak sangat terbuka untuk meraih medali di sini,” pungkas Eskar. (AH)