Sulaiman

Sulaiman

Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari masih memberikan harapan untuk bisa membawa pulang gelar juara dari kejuaraan bulutangkis Korea Open Super Series 2015. Hari ini (18/9) juara Asian Games 2014 ini mengalahkan mantan ganda putri terbaik dunia Wang Xiaoli/Yu Yang.

Indonesia Junior International Challenge 2015 segera memasuki dua babak akhir. Di nomor ganda putra, PB Djarum berhasil mengirim dua wakil untuk berlaga di semifinal pada Sabtu (19/9) sore. Di laga perempat final yang digelar Jum’at (18/9) baik Yahya Adi Kumara/Yantoni Edy Saputra maupun Andika Ramadiansyah/Rinov Rivaldy sama-sama sukses mengantongi kemenangan.

Duel ganda putri antara Serena Kani/Mychelle Chrystine Bandaso melawan juara Malaysia International Youth U19, Tania Oktaviani Kusumah/Vania Arianti Sukoco berlangsung dramatis. Pertarungan antara sesama PB Djarum ini berlangsung dalam durasi 65 menit pada Jum’at (18/9) petang.

Usaha memperbaiki prestasi di dua kejuaraan Asia yang di ikuti oleh pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akhirnya terwujud. Jika di kejuaraan bulutangkis Japan Open Super Series 2015 pasangan yang biasa di sebut Owi/Butet hanya bisa beraksi sampai babak delapan besar, maka di kejuaraan Korea Open Super Series 2015, mereka mampu berbicara hingga babak semifinal. Peluang untuk menembus hingga babak final pun masih terbuka lebar untuk juara All England 2014.

Ganda campuran PB Djarum sudah memastikan akan mengirim satu wakil ke final Indonesia Junior International Challenge 2015. Andika Ramadiansyah/Marsheilla Gischa Putri akan saling berhadapan dengan Yahya Adi Kumara/Ramadhani Hasiyanti Putri di semifinal yang akan digelar Sabtu (18/9).

Langkah pasangan ganda putri nomor satu Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari belum terbendung. Pada babak kedua kejuaraan bulutangkis Korea Open Super Series 2015, pemegang medali emas Asian Games 2014 masih unggul dari ganda Jepang Shizuka Matsuo/Mami Naito dengan 21-9, 21-16. Kemenangan Greysia/Nitya di Jepang bahkan untuk yang ke lima kalinya tanpa bisa di balas oleh lawan.