Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum PB Djarum 2026] Sekolah, Les, hingga Latihan Tiap Hari: Resep Disiplin Iffa Shakia Rebut Super Tiket
12 Juli 2026
[Audisi Umum PB Djarum 2026] Sekolah, Les, hingga Latihan Tiap Hari: Resep Disiplin Iffa Shakia Rebut Super Tiket
 
 

Keberhasilan meraih Super Tiket menuju tahap karantina Audisi Umum PB Djarum 2026 di Kudus bukanlah sebuah kebetulan bagi Iffa Hamda Shakia. Atlet muda berusia 11 tahun asal Klub PB Permata Siak ini membuktikan bahwa kedisiplinan tingkat tinggi dan jadwal latihan yang padat adalah kunci utama untuk menembus persaingan, bahkan pada debut perdananya di ajang audisi.

Berlaga di Kategori Umur 11 tahun (KU-11), Iffa sukses menjadi juara dan melangkah ke babak selanjutnya. Di balik senyum kemenangannya, terdapat rutinitas luar biasa yang mungkin sulit dibayangkan untuk anak seusianya. Dalam wawancara seusai pertandingan, Iffa membagikan resep rahasia di balik performa gemilangnya: latihan setiap hari tanpa henti yang diimbangi dengan kewajiban akademis.

Rutinitas keseharian Iffa berjalan sangat ketat. Pagi hingga siang hari, ia tetap menjalani pendidikan di sekolah reguler seperti anak-anak pada umumnya. Namun, begitu bel sekolah berbunyi, jadwal panjangnya baru saja dimulai.

"Pagi ke sekolah sampai siang. Sorenya latihan di rumah dulu, baru latihan privat. Setelah privat, langsung pergi les lagi," ungkap Iffa menceritakan kesehariannya.

Porsi latihan Iffa terbilang sangat padat dan terstruktur. Dalam seminggu, ia melakukan latihan mandiri di rumah sebanyak empat kali yang berfokus pada kelincahan seperti skipping dan shadow badminton. Sementara untuk pemantapan teknik dan porsi latihan berat di klub PB Permata Siak, Iffa melahapnya setiap akhir pekan, yakni pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Menjalani jadwal full sekolah, les akademik, hingga latihan bulutangkis setiap hari tentu bukan hal yang mudah. Di balik kedisiplinan baja tersebut, Iffa mengakui sisi manusiawinya. Ada kalanya rasa lelah menghampiri dan membuatnya ingin menyerah.

"Kadang ada rasa pengen berhenti aja, nggak usah bulutangkis lagi karena capek," aku Ifa dengan jujur.

Namun, di titik terendah itulah peran keluarga, khususnya sang kakak kandung, Wahyuni Eka Putri, menjadi sangat krusial. Sang kakak yang juga mantan pemain bulutangkis di PB Permata Siak adalah sosok yang pertama kali menyuruh Iffa ikut audisi sekaligus menjadi 'pelatih mental' yang paling tegas baginya.

"Sama Kakak nggak dibolehin berhenti, nggak dibolehin libur sama sekali," tambah Iffa menirukan ketegasan kakaknya.

Kini, air mata dan keringat dari latihan tanpa henti itu terbayar lunas. Iffa siap mengepak kopernya menuju tahap karantina di Kudus. Meski harus berpisah jauh dari orang tua di usianya yang baru 11 tahun, Iffa menyatakan kesiapannya untuk bersaing di fase karantina yang akan menilai kelayakan teknis, semangat, hingga daya juangnya.

Tidak ada beban target berlebihan dari kedua orang tuanya. Pesan yang dibawa Iffa ke Kudus sangat sederhana namun penuh makna. "Pesan orang tua, jaga salatnya dan jangan main HP terus," ujarnya tersenyum. (NFA)