Wawancara
Home > Berita > AUDISI UMUM > [Audisi Umum PB Djarum 2026] Tak Menyerah Setelah Dua Kegagalan, Zio Datang ke Makassar Memburu Mimpi Berseragam PB Djarum
06 Agustus 2026
[Audisi Umum PB Djarum 2026] Tak Menyerah Setelah Dua Kegagalan, Zio Datang ke Makassar Memburu Mimpi Berseragam PB Djarum
 
 

Audisi Umum PB Djarum 2026 yang berlangsung di GOR Dafest, Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi kesempatan ketiga bagi Filippo Coztazzio Pranata untuk mewujudkan mimpinya meraih Super Tiket dan bergabung dengan PB Djarum.

Atlet yang akrab disapa Zio itu sebelumnya mengikuti Audisi Umum PB Djarum di Kudus pada 2025 dan Pekanbaru pada 2026. Meski belum berhasil pada dua kesempatan sebelumnya, semangatnya tak pernah surut. Justru, pada penampilan ketiganya kali ini, Zio mengaku lebih percaya diri.

"Persaingan di sini memang sangat ketat, tetapi saya melihat peluangnya lebih besar dibanding sebelumnya. Di Pekanbaru, pemain yang mengalahkan saya di babak delapan besar sudah mendapat Super Tiket, jadi dia tidak ikut lagi. Karena itu saya lebih yakin kali ini," ujar Zio.

Kegigihan Zio berbanding lurus dengan tekadnya untuk menjadi bagian dari PB Djarum. Menurutnya, klub tersebut menawarkan lingkungan pembinaan yang mampu membuka jalan menuju prestasi yang lebih tinggi.

"Saya ingin sekali masuk PB Djarum karena kualitasnya sangat bagus. Dari segi fasilitas maupun sistem pelatihannya tentu berbeda dengan klub-klub lain. Saya juga sering melihat banyak juara, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang berasal dari PB Djarum dan mengharumkan nama Indonesia. Semoga pada kesempatan ketiga ini saya bisa lolos menjadi atlet PB Djarum," ungkapnya.

Pemain kelahiran Tebing Tinggi, 12 Januari 2014, itu datang dari Medan, Sumatera Utara, bersama pelatihnya, Muhammad Salman Alfarisi. Menurut Faris, sapaan akrab sang pelatih, Zio telah menjalani persiapan yang lebih matang dibanding edisi-edisi sebelumnya.

"Menjelang audisi kali ini, kami lebih mematangkan kekuatan kaki, kualitas pukulan, dan keberaniannya saat bertanding. Pada audisi sebelumnya, salah satu penyebab kekalahannya adalah faktor mental. Sekarang saya melihat perkembangannya sudah sangat baik," kata Faris.

Faris menilai peluang anak didiknya untuk melangkah lebih jauh cukup terbuka. Namun, ia mengingatkan Zio agar tidak terlena dan tetap mewaspadai setiap lawan yang dihadapi.

"Kesempatan kali ini memang lebih terbuka, tetapi jangan pernah menganggap remeh lawan. Tetap fokus di setiap pertandingan," tegasnya.

Hubungan Faris dan Zio pun tidak hanya terjalin di dalam lapangan. Selama dua tahun mendampingi perjalanan Zio, Faris mengaku telah menganggap anak didiknya itu seperti adiknya sendiri.

"Kami sering berkomunikasi di luar lapangan dan berdiskusi santai mengenai kendala-kendala yang dihadapi Zio saat bertanding. Saya sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Selain menyusun program latihan, saya juga membantu mengurus berbagai kebutuhannya, mulai dari makan, mencuci pakaian, hingga mengatur waktu istirahatnya. Harapan saya, tahun ini Zio bisa lolos menjadi atlet PB Djarum," pungkas Faris. (AH)