Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > Halifia : Masyarakat di Kudus Saling Toleransi
22 Oktober 2020
Halifia : Masyarakat di Kudus Saling Toleransi
 
 

Pebulutangkis lulusan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2018, Halifia Usni Pratiwi merupakan pemain kelahiran asal kota Kudus Jawa Tengah. Sebagai pemain kelahiran Kudus, juara tunggal putri U11 Astec Jawa Timur 2019 mengatakan bahwa yang unik dari kota kelahirannya itu adalah masyarakatnya saling toleransi.

"Ya, selain toleransi di segala hal. Kota kudus juga terkenal dengan kota kretek dan banyak juga santri di kota itu. Selain itu, Kudus juga terkenal industrinya," jelas pemain yang suka makan bakso.

Bicara wisata di Kudus, ada beberapa tempat yang patut di kunjungi bagi pelancong. Meski udara kota Kudus cenderung panas, ternyata di Kudus juga ada tempat wisata air terjun. Selain itu juga ada situs peninggalan masjid sunan Kudus, Kudus Semarak dan pastinya museum kretek.

"Tapi biasanya saya dengan keluarga itu seringnya ziarah ke menara Kudus. Karena di saja ada makam sunan yang bersebelahan dengan masjid agung," sahut gadis kelahiran bulan Januari 2009.

Di kota Kudus ini ada makanan khas yang unik dan patut untuk dicoba. Seperti garang asem, soto Kudus, lentog tanjung, jenang Kudus, ento-ento jagung dan masih banyak lagi. Dari makanan khas itu semua, Halifia menganjurkan untuk mencoba makanan khas bernama lentog tanjung.

"Rasanya gurih yang isinya irisan lontong di siram sayur gori dan lodeh tahu atau tempe. Wah, pokoknya enak dan harganya juga terjangkau," tutur Halifia.

Ternyata ketertarikan Halifia dengan olah raga tepok bulu itu berawal dari keseringannya menonton pertandingan di salah satu stasiun televisi hingga larut malam. Akhirnya Halifa mencoba bermain dengan teman-teman hingga timbul rasa suka dengan olah raga bulutangkis.

"Karena ayah nggak bisa bermain bulutangkis, akhirnya ayah ajak saya ke GOR Kaliputu ketemu sama pak Sugianto dari PB Muria. Itu pas usia saya umur 4,5 tahun. Lalu iku latihan lagi di PB Efrance, pelatihnya mas Ade Putra Perkasa," ujarnya.

"Yang dikangen dari PB Muria dan PB Efrane itu, ya teman-teman dan pelatih. Momen tak terlupakan itu kalau kalah bertanding karena di suruh joget. Habis itu kumpul sama teman-teman sambil cerita lucu sampai kertawa," ucapnya lagi.(ds)