Diluar Arena
Home > Berita > DILUAR ARENA > Celetukan Supporter Menguji Mental dan Konsentrasi Pemain
13 April 2012
Celetukan Supporter Menguji Mental dan Konsentrasi Pemain
 
 

Supporter adalah bagian yang tak pernah bisa dilepaskan dari dunia olah raga, tak terkecuali di arena Djarum Sirkuit Nasional (Djarum Sirnas) Makassar 2012 kali ini. Mereka memang kerap membuat pertandingan menjadi meriah, baik dengan sorakan maupun dengan yel-yel atau hal lainnya. Jika ada air bang, suasana makin bergemuruh.


Tetapi tahukah anda, jika supporter mulai berkata sesuka hati tak jarang konsentrasi pemain  bisa terganggu. Inilah hal yang terjadi di GOR Sudiang, kemarin (11/4). Seorang penonton berteriak kurang lebih  bunyinya seperti “Masa pemain nasional mainnya jelek, pantas saja prestasi kita hancur,” ujar penonton yang duduk di tribun.


Salah seorang atlet pun terlihat sangat terganggu dengan hal itu. Hal-hal seperti inilah yang menguji mental serta konsentrasi pemain. Dandi Prabudita adalah salah satu atlet yang pernah merasa terganggu dengan celetukan-celetukan supporter. Hal ini dialaminya di Kejurda di Blora.


“Memang seharusnya kita tidak emosi dan tidak mendengarkan perkataan mereka, tapi memang tidak jarang kita justru malah kepancing (emosinya),” ujar Dandi.


Alangkah bijaknya jika penonton sebuah pertandingan olah raga terus mensupport atlet-atlet kita yang memang berjuang untuk negeri ini. Kendati supporter kelak berkelit dengan identitas mereka sebagai supporter, dimana mereka mengklaim bahwa mereka bebas berpendapat.


Disinilah konsentrasi pemain diuji. Bagaimana mereka harus bisa untuk terus  bertarung semaksimal mungkin di lapangan, tak memperdulikan apa yang terjadi diluar lapangan. Disinilah kedewasaan pemain diuji, sejauh mana mereka bisa terus fokus ke pertandingan.


Tentu akan lebih terasa memuaskan jika supporter lawan dan yang menilai tidak baik, dibungkam dengan sebuah kemenangan manis. Seperti saat Arya Maulana di Djarum Sirnas Surabaya 2011 disoraki supporter karena beberapa kali servenya dianggap fault oleh service judge. Sempat membuatnya seperti kehilangan konsentrasi, tapi kemudian ia bangkit dan berhasil menjadi juara bersama Edi Subaktiar. Ia pun mengepalkan tangannya di udara.


Bisakah kita menjadi supporter yang baik? Dan bisakah para atlet semakin terasah mentalnya?