
Memulai debut di ajang pencarian bakat bulutangkis bergengsi bukanlah hal yang mudah bagi seorang atlet muda, apalagi jika harus bertanding menahan rasa sakit. Namun, Muhammad Naufal Hanafi atlet KU-12, berhasil mematahkan keraguan tersebut. Pada keikutsertaan perdananya, pebulutangkis asal Padang Sidempuan ini sukses menyabet tiket karantina lewat perjuangan yang heroik dan dramatis.
Atlet muda binaan Klub Exoss ini tampil mengejutkan. Tidak butuh percobaan berkali-kali bagi Noval untuk membuktikan kualitasnya di atas lapangan.
"Ini masih pertama (ikut audisi)," ungkap Naufal sambil menitikkan air mata haru usai memastikan diri lolos ke tahap karantina.
Meski berstatus sebagai debutan, mental bertanding Naufal patut diacungi jempol. Tiket karantina yang ia dapatkan bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan buah dari daya juang yang luar biasa. Di balik kesuksesan perdananya ini, Naufal harus bertarung melawan kondisi fisiknya sendiri yang terkuras habis.
Ia menceritakan bahwa dirinya mengalami masalah perut yang parah akibat jarak waktu sarapan dan pemanasan yang terlalu dekat. "Makan jam setengah delapan, berangkat setengah sembilan. Habis itu datang-datang langsung pemanasan, kayak goyang gitu perutnya," ceritanya.
Kondisi tersebut memaksanya harus muntah-muntah sejak pertandingan babak semifinal. Namun, alih-alih mengibarkan bendera putih, Naufall memilih untuk terus berjuang.
Puncak ujian bagi sang debutan terjadi di laga final. Naufal sempat berada di ujung tanduk saat tertinggal poin kritis 18-20. Di saat-saat krusial itulah kedewasaan bermainnya terlihat. Ia berhasil menyamakan kedudukan menjadi 20-20. Namun, tepat di momen deuce tersebut, rasa mualnya tak lagi bisa ditahan hingga ia terpaksa muntah di pinggir lapangan.
Meski bermain dalam kondisi tidak fit, Naufal tetap berusaha tenang. Ia menyamakan kedudukan dan akhirnya menang.
"Saya fokus, tenang. Pas udah 20 sama, naik lagi perutnya, muntah dikit di samping lapangan. Tapi tetap paksa," katanya menceritakan comeback dramatis tersebut.
Tangis Naufal pun pecah tak terbendung seusai pertandingan. Kemenangan itu terasa semakin emosional karena ia melaluinya tanpa pelukan hangat dari orang tuanya. Datang jauh-jauh dari Padang Sidempuan, Naufal hanya didampingi oleh pelatih dan teman-teman satu klubnya.
Walau mengaku sudah sering bertanding tanpa didampingi ayah dan ibunya, Naufal tetap membawa satu 'senjata' ampuh yang menjadi penyemangat utamanya dari jauh. Sebuah pesan singkat dari sang orang tua. "(Pesannya) jangan lupa berdoa, semangat," kata Naufal.
Kini, dengan tiket karantina di genggaman tangan, Noval enggan berpuas diri. Ia bertekad untuk kembali menampilkan yang terbaik. Saat ditanya apa persiapannya di masa karantina nanti agar terus dipanggil oleh pelatih, jawabannya singkat namun mantap, "Tetap fokus."
Kisah Muhammad Naufal Hanafi membuktikan bahwa pengalaman pertama bukanlah penghalang untuk bersinar. Dengan mental baja, ketenangan di momen kritis, dan doa dari jauh, seorang debutan pun bisa membuktikan prinsip: datang, bertanding, dan menang. (NFA)
