
Para pebulutangkis China memang luar biasa. Pasukan negeri tirai bambu menguasai berbagai pentas kejuaraan bulutangkis. Salah satunya adalah kejuaraan dunia atau BWF World Championships. Sejak keikutsertaan untuk pertama kalinya pada tahun 1983 di Kopenhagen, Denmark, China mulai menggebrak percaturan bulutangkis dunia. Dua gelar langsung dibawa pulang.
Sejarah telah mencatat, sejak tahun 1983 saat perhelatan ketiga hingga edisi ke 29 pada tahun 2025 di Prancis, China telah mencetak hasil yang luar biasa. Total China telah meraih 72 gelar juara. Ganda putri menjadi sektor penyumbang terbanyak, yakni 24 gelar juara. Tunggal putra dan putri China sama-sama mempersembahkan 15 gelar juara. Sementara sektor ganda campuran sudah mengemas 10 gelar bagi China. Sengitnya persaingan di ganda putra membuat pasukan China hanya baru bisa merebut 8 gelar juara.
Pesaing terdekat China datang dari Indonesia. 23 gelar juara direbut ponggawa merah putih dari kejuaraan bergengsi ini. Terbanyak yang diraih Indonesia datang dari sektor ganda putra. Total 10 gelar bisa direbut Indonesia melebihi yang diraih China. Tunggal putra penyumbang terbanyak kedua dengan 6 gelar. Disusul sektor ganda campuran dengan raihan 5 gelar juara. Susi Susanti dan Verawati Fajin dari sektor tunggal putri turut andil mempersembahkan prestasi bagi Indonesia. Dua gelar dari sektor ini. Pekerjaan rumah terbesar bagi Indonesia datang dari sektor ganda putri. Belum ada satupun pasangan ganda putri Indonesia bisa merebut gelar juara dari kejuaran dunia.
Korea menempati peringkat ketiga terbanyak dalam raihan gelar juara dari kejuaraan dunia. Negeri Ginsen ini telah mengoleksi 14 gelar juara. Ganda putra dan campuran menjadi sektor favorit dengan menyumbang enam gelar juara. Tunggal dan ganda putri Korea masih bisa mempersembahkan masing-masing satu gelar juara. Seperti halnya Indonesia, Korea juga punya pekerjaan rumah. Belum ada satupun pebulutangkis putra Korea yang bisa menjadi juara dunia sektor tunggal putra.
Denmark sudah mengumpulkan 11 gelar, masih lebih baik jika dibandingkan Jepang yang hanya 10 gelar. Hanya saja yang perlu dicatat, gelar ganda campuran yang direbut Denmark pada tahun 1993 harus dibantu oleh Swedia. Masa itu Thomas Lund yang berasal dari Denmark menjadi juara saat berpasangan dengan Catrine Bengstoon asal Swedia. (AR)
