Geliat olah raga bulu tangkis, tidak hanya diramaikan oleh mereka yang memiliki kelengkapan dalam hal pisik saja, tetapi bagi mereka yang memiliki kekurangan masih juga bisa bermain bulutangkis. Tidak hanya itu, mereka yang memiliki kekurangan pun masih bisa berprestasi di tingkat nasional bahkan dunia. Para atlet bulutangkis yang memiliki kekurangan dinamakan dengan Para Badminton. Pada Badminton tidak hanya memiliki agenda di dalam negeri saja, tetapi juga diluar negeri. Kegiatan multi even
Jason Christ Alexander menjadi salah satu andalan pemain tunggal putra di level U17 PB Djarum. Padahal, Jason baru saja bergabung dengan klub bermarkas di Kota Kudus awal tahun 2020. Meski baru bergabung, tetapi Jason behasil menjadi semifinalis di kejuaraan Astec Sumatera Utara Open pada bulan Februari lalu.
Helena Ayu Puspitasari adalah salah satu atlet asuhan PB Djarum, yang juga merasakan bagaimana persaingan yang harus dilewati saat Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis.
Pebulutangkis tunggal putri asal Surakarta Tanaya Ramadhani Putri Budiyanti, hari Kamis (27/8) ini memasuki usia ke-10 tahun. Diakui oleh Pebulutangkis lulusan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019, di hari ulang tahunnya ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya.
Badan bulutangkis dunia atau Badminton World Federation (BWF) menelurkan ide kreatif yang didedikasikan untuk anak-anak sekolah. Shutle Time, demikian program yang digagas oleh BWF. Shuttle Time diluncurkan pertama kali pada tahun 2012 dengan tajuk Shuttle Time to the world. Prinsip dasar yang diusung adalah anak-anak harus bisa menjalani kehidupan yang sehat dan aktif baik di dalam maupun diluar sekolah.
Dalam dunia kerja, struktur organisasi memegang peranan penting dalam memajukan perusahaan. Badan bulutangkis dunia (BWF) pun memiliki struktur organisasi untuk melancarkan segala program-program yang dimilikinya. The Annual General Meeting (AGM), menjadi pemegang otoritas tertinggi dalam BWF. Dewan ini mengawasi kegiatan harian dari BWF.
