Diluar Arena
Home > Berita > Diluar Arena > Yuni Kartika, Dari Lapangan Ke Depan Kamera
14 Mei 2020
Yuni Kartika, Dari Lapangan Ke Depan Kamera
 
 

Bagi para pencinta bulutangkis, nama Yuni Kartika sudah tidak asing lagi. Wajah cantiknya sering tampil di layar kaca, khususnya tayangan olahraga bulutangkis. Tak hanya menjadi komentator, ia pun kerap diminta sebagai pembawa acara di beberapa stasiun televisi.

Rupanya, tak banyak yang tahu jika seorang Yuni Kartika dulunya adalah pemain bulutangkis hebat. Pemain yang juga harus ikut seleksi PB Djarum di Jakarta, dan pernah merebut gelar juara tunggal putri pada kejuaraan Invitasi Dunia Junior tahun 1990. Yuni juga menjadi salah satu pemain yang sukses merebut Piala Uber pada tahun 1994.

Tahun 1995, Yuni Kartika memutuskan diri mundur dari hingar bingar dunia bulutangkis. Pada umur 22 tahun, ia memilih menekuni sekolah jurnalistik.

Rupanya dunia bulutangkis begitu erat dalam jiwanya. Walau ia sudah menggantungkan raket, Yuni tetap cinta dengan olahraga yang membesarkan namanya. Seiring dengan pendidikan yang dijalaninya, Yuni mulai diminta menjadi pembawa acara atau komentator bulutangkis di berbagai stasiun televisi. Tentu tidak terlalu sulit baginya bercerita tentang bulutangkis karena ia besar di bulutangkis.

Dalam wawancara dengan channel YouTube Indosportdotcom, Yuni bercerita alasan ia memilih dunia broadcasting.

Karena saya tetap mau di badminton, tapi saya nggak mau di lapangan. Saya merasa cukup puluhan tahun di dalam lapangan, saya tetep pengen di dunia badminton tapi di luar lapangan,” ujarnya.

Memang bukan hal yang mudah baginya mengawali dunia yang bertolak belakang dengan karir sebelumnya. Tapi dengan modal niat yang kuat, Yuni Kartika akhirnya bisa menjalaninya.

Diawali dengan super niat. Berhenti badminton, saya ngambil sekolah S1, lalu sekolah public speaking, public relation, broadcast, magang di RCTI dan TVRI sebelum akhirnya menjadi komentator dan penyiar,” sambungnya.

Memang, hasil yang diperoleh sebanding dengan usaha yang dilakukan. Dari berbagai sekolah yang ditekuninya membuat Yuni memiliki tata bahasa yang baik dalam penyampaian narasi di depan publik. Ia pun dapat memilih sudut-sudut pandangan yang banyak dalam pengolahan bahasa maupun cara penyampaiannya.

Agar segala informasi yang terkait dengan bulutangkis dapat tersampaikan dengan baik," pungkasnya. (AR)