
Kehadiran Global Badminton Academy (USA) di ajang MILKLIFE Superliga Junior 2026 menjadi momen istimewa bagi Etty Tantri. Pelatih yang merupakan alumni PB Djarum sekaligus istri legenda bulu tangkis Indonesia, Tony Gunawan, itu kembali ke tanah air untuk kedua kalinya bersama timnya. Selain membawa para pemain muda untuk berkompetisi, Etty juga memanfaatkan kesempatan ini untuk bernostalgia dengan klub yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Etty mengawali perjalanan bulu tangkisnya bersama PB Djarum pada 1985 sebelum melanjutkan karier ke Pelatnas. Ia kemudian memperkuat Pelatnas pada 1993 hingga 2001, sebelum akhirnya hijrah ke Amerika Serikat.
“Ini kedua kalinya saya dan tim Global Badminton Academy (USA) ikut Superliga Junior. Tahun lalu saya datang membawa tim U-19 dan hasilnya cukup lumayan karena tim putri kami berhasil masuk semifinal. Menurut saya, turnamen ini sangat bagus. Jadi, sebisa mungkin tahun ini kami juga membawa tim U-17. Kebetulan, tim U-19 sedang berbenturan jadwal dengan turnamen internasional,” ujar Etty.
Keikutsertaan di MILKLIFE Superliga Junior menjadi salah satu upaya Etty untuk memberikan pengalaman bertanding bagi para pemain muda binaannya. Ia mengaku senang melihat antusiasme anak-anak di Amerika Serikat terhadap olahraga bulu tangkis. Meski tidak memiliki sistem pemusatan latihan nasional seperti di Indonesia, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengembangkan olahraga tepok bulu di Negeri Paman Sam.
“Senang banget. Anak-anak di Amerika juga memiliki latar belakang bulu tangkis yang cukup kuat dari orang tuanya. Mereka juga suka menonton pertandingan. Memang kendalanya kami tidak memiliki Pelatnas, tetapi tidak masalah. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik. Karena itu, kami mendirikan klub. Pokoknya, apa pun yang bisa kami lakukan untuk memajukan bulu tangkis di Amerika, akan kami usahakan,” tuturnya.
Menurut Etty, salah satu tantangan terbesar dalam pembinaan pemain muda di Amerika Serikat justru muncul ketika mereka menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) dan memasuki jenjang perkuliahan. Pada usia tersebut, para pemain dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mempertahankan intensitas latihan.
“Untuk pemain junior, selama mereka masih sekolah sampai SMA, semuanya masih berjalan dengan baik karena latihan bisa dilakukan secara penuh. Tantangan terbesar justru ketika mereka selesai SMA dan masuk kuliah. Kadang mereka juga ingin melanjutkan pendidikan, sehingga tidak bisa sepenuhnya fokus berlatih,” jelasnya.
Ia menilai, untuk bisa bersaing di level dunia, seorang pemain membutuhkan waktu latihan yang intensif. Latihan tiga kali dalam seminggu tentu belum cukup untuk mengejar standar para pemain elite dari negara lain. Oleh karena itu, pihaknya kini berupaya mencari struktur pembinaan yang memungkinkan para atlet tetap melanjutkan pendidikan tanpa harus mengurangi porsi latihan.
“Sayang sekali kalau saat junior mereka sudah bagus, tetapi ketika masuk level senior tidak bisa mengikuti pemain dari negara lain karena kurang fokus berlatih. Kami sedang mencari cara agar mereka tetap bisa kuliah, tetapi jam latihannya tidak berkurang,” tambahnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan dalam pembinaan, Global Badminton Academy telah menorehkan pencapaian di level internasional. Salah satunya melalui pasangan ganda campuran Presley Smith/Jennie Gai yang kini menduduki peringkat 14 dunia. Keberhasilan tersebut menjadi modal sekaligus motivasi bagi Etty untuk membawa anak didiknya melangkah lebih jauh.
Target berikutnya pun sudah ditetapkan. Etty berharap pasangan tersebut mampu meraih medali di Olimpiade Los Angeles 2028. Baginya, pencapaian tersebut akan menjadi salah satu puncak perjalanan kariernya sebagai pelatih di Amerika Serikat.
“Kami sudah berhasil menciptakan pemain ganda campuran yang saat ini menduduki peringkat 14 dunia, Presley Smith/Jennie Gai. Target selanjutnya adalah mereka bisa meraih medali apa pun di Olimpiade Los Angeles 2028. Ini akan menjadi target terbesar kami selama berkarier sebagai pelatih di Amerika,” ungkapnya.
Kembali ke PB Djarum juga menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi Etty. Selain dapat bertemu dengan banyak teman lama dan mengenang masa-masa ketika masih menjadi atlet, ia juga melihat perkembangan PB Djarum yang semakin pesat, khususnya dalam sistem pembinaan dan pengelolaan klub.
“Senang bisa kembali lagi ke Djarum dan bertemu banyak teman lama. Bisa bernostalgia dengan masa-masa ketika masih menjadi atlet dahulu. Apalagi, PB Djarum sekarang semakin berkembang pesat. Sukses sekali sebagai klub, semuanya sudah terstruktur. Kami juga harus banyak belajar dari PB Djarum tentang bagaimana membangun klub seperti ini,” pungkasnya. (AH)
