Kevin Sanjaya Sukamuljo terkenal dengan permainannya yang atraktif. Gayanya di lapangan kadang terlihat arogan. Seperti di final All England 2017 lalu, dimana Kevin seakan tak suka melihat sang lawan bereaksi berlebih terhadap bola yang memang jauh meninggalkan lapangan. Ia pun tak jarang untuk berteriak saat melakukan smes ataupun saat meraih angka. Ia tak jarang seakan terbang dari sudut satu ke sudut lainnya.
Keluar sebagai juara All England Superseries Premier 2017, tak hanya membawa Kevin Sanjaya Sukamuljo keluar sebagai seorang legenda baru dari PB Djarum. Keberhasilannya menjadi kampiun di turnamen tertua dunia bersama Marcus Fernaldi Gideon pun menjadikan mereka sebagai penghuni peringkat satu dunia.
Kevin Sanjaya Sukamuljo akhir pekan lalu mungkin menjadi salah satu nama paling sering diperbincangkan di tanah air. Pemuda berusia 21 tahun itu sukses menjadi juara All England bersama Marcus Fernaldi Gideon usai kalahkan wakil Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen dengan 21-19 dan 21-14 hari Minggu (19/3) lalu.
Seperti bocah pada umumnya, awalnya Dinar Taufiqul Hafidz belum terlalu berminat pada olahraga bulutangkis. Tetapi lama kelamaan ia mulai tertarik pada olahraga yang menggunakan raket sebagai pemukul. Minat Dinar yang ketika itu berumur 5 tahun terlihat saat ia sering melihat sang ayah berlatih. Sejak itu pulalah ia mulai belajar mengayunkan raket.
Al Akram Ichmawan M, demikian nama yang diberikan orang tua kepadanya. Lahir di Sungguminasa, Makasar, 13 tahun lalu AL Akram tak pernah menduga bisa lolos Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Al Akram mencoba mengadu keberuntungan di tahun 2014 lalu. Berkat kegigihannya. Al Akram akhirnya bisa bergabung dengan Klub yang besar di kota Kudus.
Perjalanan untuk menjadi seorang juara di arena memang tidak singkat.
