Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) sudah sejak 2007 menghadirkan turnamen level superseries. Ini merupakan level tertinggi di turnamen individu. Hadiah yang ditawarkan pun tak sedikit. Turnamen level ini diwajibkan memberikan total hadiah minimal US$ 250 ribu untuk level superseries dan untuk superseries premier minimal US$ 500 ribu. Tahun ini, BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016 menawarkan hadiah total US$ 900 ribu atau setara atau hampir Rp 12 milyar.
Pasangan putri unggulan kedua asal Indonesia Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii hanya bisa menjadi runner up Australian Open Superseris 2016. Di final, Nitya/Greysia dikalahkan pasangan asal Tiongkok Bao Yixin/Chen Qingchen dengan dua game langsung bertempat di Sport Center Sydney, Minggu (12/6) siang waktu Australia.
Bagi anda pecinta bulutangkis, mungkin sudah tak asing dengan istilah umpire. Tak sembarang orang bisa menjadi pemimpin sebuah pertandingan, terlebih pertandingan akbar seperti di arena BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016.
Di lapangan utama turnamen bulutangkis papan atas dunia, kini sudah menggunakan teknologi hawk-eye. Teknologi ini pertama kali resmi digunakan pada tahun 2014 silam. Teknologi ini memberikan peluang bagi atlet untuk melakukan challenge atas keputusan hakim garis, jika dirasa merugikan dirinya.
Melangkah dari babak kualifikasi, untuk pertama kalinya Febby Angguni berhasil melangkah ke babak kedua BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016. Alumnus PB Djarum ini berhasil melaju ke babak kedua usai kalahnya Yip Pui Ying dari Hong Kong.
Krishna Adi Nugraha berhasil meraih gelar pertama bagi merah putih di ajang Smiling Fish International Challenge 2016. Krishna yang pada pekan sebelumnya tampil sebagai runner up di Walikota Surabaya International Series 2016 sukses memetik kemenangan di partai puncak kemarin (22/5).
