Diluar Arena
Home > Berita > DILUAR ARENA > Resep Puasa dan Selami Jiwa Anak Didik Ala Engga Setiawan
17 Juli 2013
Resep Puasa dan Selami Jiwa Anak Didik Ala Engga Setiawan
 
 

Banyak cara untuk mengatasi rasa lapar dan haus di saat melasanakan ibadah puasa. Ada yang menghabiskan waktu dengan menonton TV, main game atau jalan-jalan. Namun bagi Engga Setiawan, pelatih PB Djarum, ia akan memilih tidur. Engga yang sempat bergabung dengan Pelatnas ini mengatasi rasa lapar dan hausnya dengan cara tidur.

“Kalau ada waktu untuk tidur saya akan tidur. Sebenarmya lapar itu hanya pikiran saja sih. Dulu sewaktu kecil, kalo lapar dan haus saya akan tidur. Habis perkara hehehe,” ujarnya terkekeh-kekeh.

Namun resep jitunya kini tidak lagi sering ia diterapkan. Setelah memilih profesi sebagai pelatih, ia tak lagi harus memeras keringat untuk berlatih bulutangkis.

“Ngga terlalu cape, hanya cape di pikiran saja. Sama kalau bantu-bantu masuk ke program teknik main gitu ya cape, tapi sudah terbiasa,” bahasnya. Tak heran jika sampai puasa memasuki hari ke-7 belum satu haripun ia mengalami kegagalan dalam berpuasa. “Alhamdulillah belum batal. Dan semoga tidak,” ujarnya mantap. 

Tantanganpun kerap ia temukan pada saat melatih di bulan Ramadhan ini. Tingkahya polah anak didiknya yang semuanya masih anak-anak ini terkadang membuat rasa sabarnya teruji. Ia pun harus pandai-pandai mengatur dan menyikapi tingkah laku anak didiknya.

“Saya mendapat tantangan dari anak-anak. Harus lebih tahan sabar terhadap tingkah mereka yang ada-ada aja,” kenangnya. Sifat dasar anak-anak yang masih senang bercanda menjadi kendala tersendiri.

“Suka bercanda pada saat latihan dan kadang ga perhatikan instruksi pelatih. Harus di beri tahu 3 sampai 4 kali baru dengar dan jalanin dengan baik,” tambahnya. Tak pelak lagi, hukumanpun harus di jatuhkan agar seluruh siswa lebih berdisiplin. “Saya sih ga suka menghukum. Saya paling menyuruh mereka ke pinggir lapangan dan diam di tempat, baru nanti kalo sudah sadar akan kesalahannya lanjut keprogram,” pungkasnya.

Jiwa anak-anak pula yang membuatnya selalu tersenyum saat waktu berbuka tiba. “Kalau latihan menjelang saat berbuka anak-anak suka protes ke saya.  Kalo lagi latihan berbarengan dengan adzan tapi saya belum mendengar dan tetap ngelatih, anak-anak langsung pura-pura tanya jam,maksudnya nyindir,” ujarnya seraya tertawa. Hal-hal kecil ini lah yang selalu membuatnya senang melatih anak-anak.

“Makanan favorit buka puasa saya ga ada. Saya orangnya makan tuh gampang. Tapi yang pasti pertama kali buka saya akan minum air putih trus makan sup atau sayur yang ada kuahnya tanpa nasi. Baru 15 menit kemudian makan nasi dan lauknya,” ceritanya tentang makanan berbuka. Untuk sahurpun ia lebih sering memilih makanan berkuah. Beruntung semua makanan yang ia cari sudah tersaji di asrama Kudus. Jadi iapun tak harus keluar asrama untuk sekedar mencari makan untuk sahur atau berbuka puasa.

Sebagai umat muslim yang taat, ia pun selalu melaksanakan sholat Tarawih. Masjid yang letaknya tak jauh dengan asrama menjadi tujuan utamanya. Tidak seperti pemuda lainnya, ia lebih memilih kembali ke asrama selepas shalat tarawih ketimbang jalan-jalan. “Untuk puasa bulan ini belum sempat kemana-mana. Saya lebih memilih di asrama aja karena banyak yang harus di kerjakan,” tegasnya. (AR)