
Tidak ada yang meragukan kehebatan pemain bulutangkis Indonesia Marcus Fernaldi Gideon. Berbagai gelar juara sudah pernah ia rengkuh. Mulai dari gelar bergengsi All England, Indonesia Open, China Open, dan lainnya pernah ia persembahkan bagi Indonesia. Prestasinya memang moncer bersama dengan pemain asal klub PB Djarum, Kevin Sanjaya Sukamuljo. Sebutan sebagai pasangan ganda putra nomor satu dunia juga sudah lama ia genggam.
Marcus bersama Kevin mulai mengancam peta bulutangkis dunia sejak mereka mulai dipadukan. Sejak disatukan pada tahun 2015, Marcus dan Kevin langsung mencuri perhatian. Di Swiss Open 2015, walau hanya sebagai semifinalis, ganda Denmark Kim Astrup/Ansers Skaarup Rasmussen menjadi korban. Di tahun ini gelar juara Chinese Taipei Open Grand Prix bisa direbut. Tahun-tahun berikutnya mulai Marcus merajalela bersama Kevin. Gelar-gelar akbar seperti All England, Indonesia Open, Japan Open, Denmark Open sudah menjadi koleksi pribadinya. Pada kejuaraan multi event seperti Asian Games juga ia bisa angkat bicara. Harus puas menerima medali perak pada nomor beregu, ia dan Kevin menjadi yang terbaik di nomor perorangan. Marcus dan Kevin mempersembahkan satu keping medali emas bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta.
Kini Marcus tengah menatap celah untuk bisa merebut medali Olimpiade 2020 yang dilangsungkan di Tokyo, Jepang. Bersama Kevin, ia datang sebagai unggulan pertama dan berada pada Grup A bersama dengan ganda China Taipei, Lee Yang/Ang Chi Lin lalu ganda handal Inggris Ben Lane/Sean Vendy serta Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy asal India.
Pekerjaan rumah yang harus dibenahi dari Marcus dan juga Kevin tentunya adalah jika bertemu dengan ganda asal Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Pasalnya, Marcus dan Kevin lebih banyak kalah jika bertemu dengan ganda nomor satu Jepang ini. Dua kemenangan di peroleh saat pertemuan awal di di kejuaaran Hongkong Open 2018 dan Fench Open 2018. Enam kali kekalahan dialami sesudahnya.
Tapi biar bagaimanapun Mercus akan tetap berjuang demi Indonesia. Berbagai persiapan menjelang Olimpiade sudah ia jalani. Keberangkatan awal tim Indonesia ke Jepang juga termasuk salah satu upaya agar para pemain Indonesia bisa beradaptasi. Bagi Marcus, setiap lawan sama beratnya dan sama memiliki tekanan karena bertanding di Olimpiade.
"Semua lawan sama ya, merata, bakal ramai. Olimpiade juga tekanannya berat. Terus ada situasi pandemi Covid seperti ini kan jadinya banyak mengganggu pikiran. Turnamennya besar dan kita harus menjaga biar tidak kena. Kita juga tidak tahu kena atau enggaknya. Ya harus banyak berdoa biar dikasih keberuntungan," ujarnya kepada tim Media dan Humas PP PBSI. (AR)
