Jika berbicara prestasi Indonesia di ajang Piala Uber, tentu yang kita ingat adalah terakhir kali Srikandi merah putih juara pada tahun 1996. Tim putri Indonesia sukses membendung perlawanan juara bertahan China dengan kemenangan 4-1, yang kala itu berlangsung di Hong Kong.
Mantan pebulutangkis tunggal putri berbakat Indonesia, Mia Audina adalah salah satu atlat yang paling diperhitungkan. Atlet kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1979 itu digadang-gadang bakal menjadi penerus kejayaan tunggal putri Indonesia, setelah era Susy Susanti.
Meski saat ini prestasi bulutangkis sektor putri Indonesia belum begitu terlihat, namun perlu diketahui para Srikandi bulutangkis masa lalu Indonesia mampu menunjukkan taringnya di berbagai gelaran.
Tantangan berat bagi tim Piala Thomas di tahun 2002 adalah ketika pasukan Cipayung harus bertanding mempertahankan Piala Thomas di kandang naga, Tiongkok. Kala itu, Indonesia harus kehilangan salah satu spesialis ganda yakni Tony Gunawan yang memutuskan undur diri dari Pelatnas. Beruntung, tunggal putra Taufik Hidayat yang sempat memilih bermain di Singapura, kembali ke Tanah Air dan memperkuat tim Piala Thomas Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini Susy Susanti masih menjadi legenda bulutangkis tunggal putri Indonesia yang paling sukses semasa karirnya. Pasalnya, hampir seluruh gelar bergengsi di dunia pernah diraih oleh wanita kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971 itu.
Regenerasi mulai terasa begitu lambat. Pemain-pemain hebat seperti Alan Budi Kusuma, Ardy B Wiranata, Hermawan Susanto, Joko Supriyanto prestasinya semakin menurun. Begitu pula dengan Hariyanto Arbi yang juga mulai menunjukkan penurunan prestasi. Sementara pemain pelapis juga belum menunjukkan tajinya. Marleve Mainaky, Indra Wijaya, Budi Santoso belum dibilang bisa mendekati seniornya.
