Turnamen Nasional
Home > Berita > TURNAMEN INTERNASIONAL > Tunggal Putra Di Olimpiade Barcelona 1992
21 Juli 2012
Tunggal Putra Di Olimpiade Barcelona 1992
 
 

Usaha badan bulutangkis dunia agar bisa menjadikan olahraga bulutangkis dipertandingkan di ajang olimpiade akhirnya terwujud. Bertahun-tahun merintis usaha ini, akhirnya pada tahun 1992 bulutangkis resmi di pertandingkan di Olimpiade. Kota Barcelona, Spanyol menjadi tempat pertama di selenggarakannya bulutangkis di ajang pesta olahraga sedunia ini.

Indonesia sebagai salah satu negara raksasa di olahraga bulutangkis patut mengucap syukur atas masuknya cabang olahraga bulutangkis di ajang olimpiade. Hanya dari bulutangkislah peluang untuk merebut medali emas bisa terwujud. Dan apa yang di idam-idamkan oleh Indonesia pun menjadi kenyataan. Keping emas pertama bisa di raih oleh tim olimpiade Indonesia. Ini merupakan emas pertama yang mampu di raih selama Indonesia mengikuti ajang multi event ini. Dan yang lebih fenomenal, emas pertama di cabang bulutangkis justru mampu di raih oleh putra pertiwi.

Adalah Alan Budi Kusuma, atlet asal PB Djarum yang mampu menjadi buah bibir atas prestasinya merebut medali emas pertama bulutangkis di ajang olimpiade. Semula nomor tunggal putra diprediksi bakal menemui hambatan besar untuk bisa merebut medali emas. Pasalnya di masa itu prestasi para pesaing Indonesia  terutama tunggal putra China, Zhao Jianhua masih mendominasi. Belum lagi pemain negeri Jiran Malaysia, Rashid Sidek tengah gemerlap. Dari benua Eropa pemain Denmark Poul Erik Hoyer Larsen dan Thomas Stuer Lauridsen, tak kalah mengkilapnya.

Indonesia kala itu mampu meloloskan tiga tunggal putra. Ardy Bernardus Wiranata dan Hermawan Susanto turut bersama Alan Budi Kusuma menjadi wakil merah putih. Babak-babak awal, seluruh pemain Indonesia masih mampu menghalau lawan-lawannya dengan relatif mudah.

Perjuangan berat terjadi saat babak delapan besar di mulai. Perang bintang-bintang bulutangkis masa itu terjadi di babak perempat final. Ardy dan Hermawan yang berada di paruh undian atas harus bertemu pemain unggulan yang selalu bisa mengalahkan pemain Indonesia.  Ardy Bernardus Wiranata dan Hermawan Susanto berada dalam posisi Under Dog. Empat kali sudah Ardy bertemu pemain jangkung Denmark Poul Erik Hoyer Larsen, tetapi tak satupun kemenangan mampu ia raih. Hermawan Susanto pun telah bertemu tiga kali dengan jagoan China Zhao Jian Hua yang kala itu sangat di unggulkan, tetapi kemenangan juga belum mampu ia raih. Yang terjadi di karpet hijau kala itu sungguh fantastis. Pertarungan dramatis penuh perjuangan di perlihatkan oleh pemain Indonesia. Baik Ardy maupun Hermawan bagaikan banteng kedaton mampu membalikan prediksi dan data statistik. Bermain sebanyak tiga game, kedua pemain Indonesia itu mampu unggul atas lawan-lawannya. Ardy membungkam jago Denmark dan Hermawan menumbangkan andalan China. Ardy dan Hermawan pun memastikan satu tempat final untuk Indonesia, karena mereka akan saling berhadapan di babak semifinal.

Di paruh undian bawah,  Alan Budi Kusuma berjuang sendiri diantara bintang Korea, Denmark dan Malaysia. Undian sedikit menguntungkan bagi Alan. Di perempat final ia bertemu Kim Hak Kyun, pemain Korea Selatan yang telah dua kali ia kalahkan. Berbekal dua kemenangan ini lah Alan Budi Kusuma mampu unggul dua game langsung. Sukses menekuk Kim Hak Kyun, Alan menghadapi pemain Denmark Thomas Stuer Lauridsen di babak semifinal.

Indonesia sedikit bernafas lega. Satu tempat final sudah pasti menjadi milik merah putih dan berarti minimal satu medali perak dan satu medali perunggu sudah dipastikan akan menjadi milik Indonesia. Tinggal bagaimana menjaga peluang meraih medali emas melalui Alan Budi Kusuma. Pertemuan Alan Budi Kusuma dengan Thomas Stuer Lauridsen di babak semifinal merupakan pertemuan ketujuh dengan kedudukan imbang 3-3. Tetapi Alan Budi Kusuma mampu unggul di tiga pertemuan terakhir. Ini yang membuat posisi Alanberada di atas angin.

Penonton dan pendukung merah putih sempat dibuat khawatir. Di game pertama pertandingan berjalan sangat ketat dan harus menjalani deuce saat angka mencapai 13 sama. Dengan menggunakan sistem skor lama, pemain yang bisa mencapai angka 18 lah yang bisa memenangkan game tersebut.  Dan Alan mampu mencapai angka 18 terlebih dahulu sementara lawan hanya mampu mendapat angka 14. Di game kedua Alan yang telah berada diatas angin mampu mengontrol jalannya pertandingan. Dengan cepat ia bisa memenangkan pertandingan dengan 15-8. Dengan kemenangan ini, maka Alan berhak mengantongi tiket final dan sekaligus memastikan terjadinya partai All Indonesia Final.

Bagi Ardy Bernardus Wiranata dan Hermawan Susanto menjadi juara olimpiade juga merupakan impian mereka. Tak ayal di babak semifinal keduanya berjuang habis-habisan. Tiga game perang saudara terjadi di babak semifinal. Hanya saja dewi fortuna berada dalam genggaman Ardy. Ardy pun  akhirnya mampu mengalahkan Hermawan Susanto, pemain yang kala itu bergelar “si pembunuh raksasa”.

Final tunggal putra akhirnya mempertemukan dua pemain Indonesia yang sama-sama berasal dari klub yang sama yakni PB Djarum.  Alan Budi Kusuma bertemu dengan Ardy Bernardus Wiranata di partai puncak. Alan akhirnya mampu menggondol medali emas dengan mengalahkan seterunya Ardy dalam pertarungan dua game, 15-12, 18-13 sekaligus membuat namanya akan selalu menjadi buah bibir, karena medali emas yang di rebutnya merupakan medali emas pertama untuk cabang bulutangkis dan tentunya juga medali emas pertama bagi Indonesia.  Ardy mendapat tempat kehormatan menerima medali perak, sementara Hermawan Susanto melengkapi kedigjayaan Indonesia dengan meraih medali perunggu bersama dengan Thomas Stuer Lauridsen dari Denmark.

Lengkap sudah kejayaan tunggal putra Indonesia di ajang pertama cabang olahraga bulutangkis pada pesta olahraga terbesar sejagat. Tiga tunggal putra Indonesia bersanding bersama di podium menerima kalungan medali.  Merah putih pun berkibar di iringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Inilah untuk pertama kalinya Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di olimpiade. (AR)